Kakakku Yang Perhatian

 

Ceritapa, Semuanya bermula sejak aku dikirim ke Medan untuk menemani pamanku yang tinggal sendirian ditinggal meninggal oleh istrinya. Memang sejak kecil, aku sudah sering berpindah tempat. Sekolah Dasar, aku lewati di Bandung, SMP, aku lalui di Balikpapan, dan SMA di Medan.



Aku tidak tahu alasan orangtuaku yang memperlakukanku begitu. Aku punya asumsi mereka kurang menerima kehadiranku, aku benci mereka semua. Tapi tidak dengan kakak perempuan ku, Mira (Mira kakak perempuan ku yang nomor 2, dan kakak satu-satunya, aku punya satu adik perempuan, dan dua saudara laki-laki).


Aku sangat menyayangi Kak Mira, karena dia sangat pengertian, mau menghibur hatiku yang sering kalau rinduku sangat menggebu, karena kami sangat jarang bertemu. Sewaktu aku dikirim ke Medan, dia melanjutkan kuliah ke London. Kami kembali bertemu di Jakarta sewaktu aku tamat SMA, dan dia kembali dari London untuk persiapan pernikahannya.


Tiga bulan kami banyak bersama, tapi dasar Kak Mira yang sangat pengertian, dia malah bukan mengurusi pernikahannya, eh malah mengurusi aku. Kami banyak bersama, aku sangat menyanginya. Saking sayangnya dia pernah menciumku, tapi tanpa sadar aku membalasnya dengan mencium bibirnya, dia memelukku dengan hangat.


Tapi aneh kurasakan, dia tidak menolaknya, malah mulai memainkan lidahnya di mulutnya. Hmmm, sungguh indah saat itu. Tanpa sadar aku mulai meremas payudaranya yang besar menantang.


Dia mulai menjerit lirih. Dari bibir, ciumanku turun ke lehernya, lama aku bermain di sana. Kak Mira menekan kepalaku seolah menuntunku untuk menciumi dadanya. Aku mulai nekat, membuka bra-nya dan muncullah pemandangan yang sangat indah.


Mula-mula kuciumi ketiaknya, sementara tangan kiriku meremas bukit tanpa pelapis itu. Ciumanku berpindah ke payudaranya. Kucium perlahan pangkalnya, dia nyeletuk, “Ah.. Andre, nikmat sekali…” lalu kuciumi putingnya yang merah merekah. Ah, nikmat sekali waktu itu. Kami melakukannya hampir satu jam, sampai kami sama-sama sadar.


Kejadian itu terhenti begitu saja setelah tiga bulan menikah. Kami kembali melakukannya. Saat itu kutahu Kak Mira kurang bahagia, karena setelah bulan madunya yang 2 minggu, suaminya harus kembali ke Pekanbaru. Tinggallah kakak perempuan ku sendirian.


Suatu malam, aku menemaninya menonton Drama di TV. Saat itu kembali dia memelukku, kami saling berciuman mesra sekali. Malu-malu aku mulai membuka pakaiannya. Dia membiarkan saja, bahkan mulai mengusap permukaan resleting celana panjangku dengan sangat bernafsu.


Aku makin gemas dan bernafsu melihat tingkahnya, pakaiannya kupreteli sampai lembar terakhir. Tanganku meraih pinggulnya yang seksi dan kudekatkan ke arahku. Mukaku persis di depan selangkangannya sehingga aku dapat melihat gundukan bukit kemaluannya tepat didepan mata.


Aku semakin tak sabar, aku memandang ke atas dan Kak Mira menatapku sambil tetap tersenyum. Wajahnya tampak memerah menahan malu. Tanpa aba-aba dariku Kak Mira menganggukan kepalanya perlahan, seolah mempersilakanku memmainkan kemaluannya.


BandarQ Online - Dengan gemetar jemari kedua tanganku kembali merayap ke atas menelusuri dari kedua betisnya yang mulus terus ke atas sampai kedua belah pahanya yang putih mulus tanpa cacat sedikitpun. Halus sekali kulit pahanya dan begitu seksi dan padat. Aku mengusap perlahan dan mulai meremas.


“Oooh…” Kak Mira merintih kecil, kemudian jemari kedua tanganku merayap ke belakang, kebelahan bokongnya yang bulat. Aku meremas gemas di situ. Aahh… begitu halus, kenyal dan padat. Tiba giliran lagi aku berhadapan dengan lubang kemaluannya.


Sejenak aku berhenti, menikmati pemandangan itu. Bau alat kelaminnya langsung menyergap hidungku. Mmmm… harum. Kini terpampanglah sudah daerah “forbidden” itu, menggembung membentuk seperti sebuah gundukan bukit kecil mulai dari bawah pusarnya sampai ke bawah di antara kedua belah pangkal pahanya yang seksi.


Sementara di bagian tengah gundukan bukit kemaluannya terbelah membentuk sebuah bibir tebal yang mengarah ke bawah dan masih tertutup rapat menutupi celah liang kemaluannya. Dan di sekitar situ aku mengagumui bulu-bulunya yang seperti kawanan domba di bukit.


Aku hanya bisa melongo menyaksikan keindahan bukit kemaluannya dan tanpa terasa kedua tanganku sampai gemetar menyaksikan pemandangan yang baru pertama kalinya ini. “Oohh.. Kak Mira… indahnya…” Hanya kalimat itu yang sanggup kuucapkan saat itu. Selanjutnya aku masih melongo menikmati keindahan surga dunia milik kakak perempuan ku, Mira.


Bau yang keluar dari alat kelamin miliknya membuat hidungku jadi kembang kempis menikmati aroma aneh namun terasa menyenangkan buatku. Aku mulai menciumi pahanya yang mulus, sementara tanganku sibuk mengusap-usap pahanya yang lain. Tangannya meremas rambutku sambil berteriak kenikmatan. Ciumanku mulai naik ke selangkangannya.


Kak Mira tidak sabaran, dia menuntun kepalaku ke arah kemaluannya, aku hanya menuruti. Kuciumi kemaluannya, remasannya mulai keras, apalagi saat lidahku bermain di klitorisnya. Aku tak puas juga, aku mengisapnya sekuatnya, mungkin ciuman di lubang kemaluannya itu berlangsung lebih dari 15 menit.


Kembali aku memandang ke wajahnya, walaupun wajahnya sedikit memerah karena malu. Ia berusaha untuk tetap tersenyum. Dadanya terlihat sangat menonjol. Alamak! Buah dadanya itu ternyata memang berbentuk bulat, ukurannya 34B, warnanya putih bersih, putingnya tampak berwarna merah muda kecoklatan.


Aaah… cantiknya kakak perempuan ku ini apalagi kalau sedang telanjang bulat seperti ini, “Kak…” bisikku lirih. Batang kemaluanku semakin berdenyut tak karuan. Lalu Kak Mira mengulurkan kedua tangannya kepadaku mengajakku berdiri lagi.


Kini rasanya kami seperti Adam dan Hawa saja. Bertelanjang bulat satu sama lain seperti kaum nudis saja. “Aku tahu, kamu tidak pernah bahagia, aku ingin membahagianmu, dengan cara apapun itu.. kini nikmatilah!” bisiknya mesra.


Aku merangkul tubuhnya yang telanjang merasa terharu. Badanku seperti kesetrum saat kulitku menyentuh kulit halusnya yang hangat dan mulus apalagi ketika kedua payudaranya yang bulat menekan lembut dadaku yang bidang. Aaah, aku merintih nikmat. Jemari tanganku tergetar saat mengusap punggungnya yang telanjang.


Begitu halus dan mulus, aku tak sanggup menahan gejolak nafsuku. Aku tak tahan lagi, aku menyetubuhinya. “Aahh… Kak, kita lakukan di kamar yuk!” bisikku tanpa malu-malu lagi. Kak Mira tersenyum dalam pelukanku. “Terserah mau melakukannya dimana,” sahutnya mesra.


Dengan penuh nafsu, aku segera meraih tubuhnya dan kugendong ke dalam kamar. Saat itu aku sempat melirik jam dinding ruangan, sudah hampir pukul 12:00. Kurebahkan tubuhnya yang telanjang bulat itu di atas kasur busa di dalam kamar tengah. Suasana dalam kamar kelihatan sangat romantis (maklum kamar pengantin baru).


Jantungku berdegup kencang saat kunaiki ranjang dimana tubuh Kak Mira yang telanjang berada. Ia memandangku tetap dengan senyumnya yang manis. Aku merayap ke atas tubuhnya yang bugil dan menindihnya. Aku tak sabar ingin segera memasuki tubuhnya. Aku merasakan kehangatan saat kulitku bersentuhan dengan kulitnya yang halus mulus.


Buah dadanya kelihatan sangat kencang dan bundar dengan puting-putingnya yang kemerahan sangat menawan hatiku, namun kutahan sementara keinginanku untuk menjamah buah terlarangnya itu. “Ah…” ia hanya melenguh pasrah saat aku setengah menindih tubuhnya dan batang kemaluanku yang tegang itu mulai menusuk celah bukit kemaluannya, mencari liang kemaluannya.


Kurasakan bukit kemaluannya terasa lunak dan hangat. Aahh… tanganku tergetar saat kubimbing alat vitalku mengelus bukit kemaluannya yang empuk lalu menelusup di antara kedua bibir kemaluannya. “Pelan-pelan Ndree…” bisiknya pasrah. Lalu dengan jemari tangan kananku kuarahkan kepala kemaluanku yang sudah tak sabar ingin segera masuk.


Kak Mira memeluk pinggangku mesra, sementara kulihat ia memejamkan kedua matanya seolah menungguku yang akan segera memasuki tubuhnya. Aku mencari liang kemaluannya di antara belahan bukit kemaluannya yang lunak. Aku tak dapat melihat celah kemaluannya karena posisi tubuhku yang memang tak memungkinkan untuk itu namun aku berusaha untuk mencari sendiri.


Kucoba untuk menelusup celah bibir kemaluannya bagian atas namun setelah kutekan ternyata jalan buntu. “Agak ke bawah… aahh kurang ke bawah lagi, mmm… yah tekan di situ Ndre… aaawwww pelan-pelan… sakiit…” Kak Mira memekik kecil dan menggeliat kesakitan, namun segera kupegang pinggulnya agar jangan bergerak.


Akhirnya aku berhasil menemukan celah kemaluannya itu setelah kakak perempuan ku itu menuntunku. Aku pun mulai menekan ke bawah, “Hhgkghh…” kepala kemaluanku kupaksa untuk menelusup ke dalam liang kemaluannya yang sempit. Terasa hangat dan sedikit basah.


Kukecup bibirnya sekilas, lalu aku berkonsentrasi kembali untuk segera dapat membenamkan batang kemaluanku sepanjang 16 cm itu seluruhnya ke dalam liang kemaluannya. Kak Mira mulai merintih dan memekik-mekik kecil ketika kepala kemaluanku yang besar mulai berhasil menerobos liang kemaluannya yang sangat-sangat sempit sekali.


“Tahan Kak… Kak masukkan lagi! Hhgghh… ahhh sempit sekali Sayang aahhh…” erangku mulai merasakan kenikmatan dan “Sssrrtt,” kurasakan kepala batang kemaluanku berhasil masuk dan terjepit ketat sekali dalam liang kemaluannya.


“Aaawww…” teriak Kak Mira memelas, tubuhnya menggeliat kesakitan. Aku berusaha menentramkannya sambil kukecup mesra bibir mungil yang basah merekah dan kulumat dengan perlahan. “Mmmm… cuupp… cuupppp.”


Lalu… “Hhhgghh.. tahan sayang! kutekan lagi yaah…” bisikku di antara rasa pedih dan nikmat karena jepitan liang kemaluannya itu begitu ketat seolah-olah kepala batang kemaluanku diremas oleh sebuah daging yang sangat kuat cengkeramannya, walaupun terasa hangat dan lunak. Mmmm… nikmatnya saat batang kemaluanku menggesek celah kemaluannya.


“Hhhh… liang kemaluan Kakak masih sangat sempit.”

“Kemaluanku sakit… ” erang Kak Mira lirih.

“Yahh… kita tahan dulu, mungkin pemanasannya kurang lama…” bisiknya bernafsu.


Segera kurebahkan badanku di atas tubuhnya dan memeluknya dengan kasih sayang. “Aahhh…” aku menggelinjang nikmat merasakan kehangatan dan kehalusan kulitnya. Apalagi saat dadaku menekan kedua buah payudaranya yang montok rasanya begitu kenyal dan hangat. Puting-puting susunya terasa sedikit keras dan lancip.


Mmm… mmm… kemudian kurasakan pula perut kami bersentuhan lembut dan yang paling merangsang adalah saat batang kemaluanku yang kucabut tadi kini menekan nikmat bukit kemaluannya yang empuk. Ingin rasanya aku mencoba untuk memasuki liang kemaluannya lagi dan mengeluarkan air maniku sebanyak-banyaknya di dalam situ, tapi aahh… aku tak ingin hanya diriku saja yang merasakan kenikmatan.


Aku ingin mencumbunya ini dulu, mengulum bibirnya, meremas dan mengenyot-enyot kedua buah payudaranya, dan terakhir akan kucumbu seluruh tubuhnya dari atas sampai ke kaki, kukecup dan kucumbu alat kelaminnya, kujilati bibir kemaluan dan klitorisnya sampai Kak Mira merasakan kenikmatan seks sesungguhnya dan orgasme sepuasnya.


Ia memandangku dari jarak yang kurang dari 10 senti dan tertawa renyah, “Mmmm… Kakak bahagia sekali bersamamu seperti ini…” Belum sempat ia selesai ngomong, aku sudah melumat bibirnya yang nakal itu. Kak Mira membalas ciumanku dan melumat bibirku dengan mesra.


Kujulurkan lidahku ke dalam mulutnya dan Kak Mira langsung mengulumnya hangat, begitu sebaliknya. Semua terasa indah. Kurayapkan jemari tangan kiriku ke bawah menelusuri sambil mengusap tubuhnya mulai pundak terus ke bawah sampai ke pinggulnya yang hangat padat dan kuremas gemas.


Ketika tanganku bergerak ke belakang ke bulatan bokongnya yang bulat merangsang, bersamaan dengan itu aku mulai menggoyangkan seluruh badanku menggesek tubuh Kak Mira yang bugil terutama pada bagian selangkangan dimana batang kemaluanku yang sedang tegang-tegangnya menekan gundukan bukit kecil milik Kak Mira yang empuk.


Kugerakkan pinggulku secara memutar sambil kugesek-gesekkan batang kemaluanku di permukaan bibir kemaluannya yang empuk sambil sesekali kutekan-tekan nikmat. Kak Mira ikut-ikutan menggelinjang kegelian, namun ia sama sekali tak menolak walaupun beberapa kali kepala batang kemaluanku yang tegang salah sasaran memasuki belahan bibir kemaluan, seolah akan menembus liang kemaluannya lagi.


Ia hanya merintih kesakitan dan memekik kecil kalau aku salah menekan. “Aawww… saakiit…” erangnya membuatku makin terangsang saja. “Aahhh… ssshhh…” aku melenguh keenakan. Setan-setan burik di belakangku semakin gila berjoget dangdut, seolah bernyanyi “Hangat terasa, terlena…”.


Beberapa menit kemudian setelah kami puas bercumbu, bibirku menggeser tubuhku ke bawah sampai mukaku tepat berada di atas kedua bulatan payudara yang bundar bak buah apel. Kini ganti perutku yang menekan bukit kemaluannya yang empuk itu. Woow… enakk. Jemari kedua tanganku secara bersamaan mulai menggerayangi “Gunung Fuji” miliknya itu, seolah hendak mencakar kedua payudaranya.


Cerita sex - Kelima jemari masing-masing tanganku kurenggangkan satu sama lain dan membentuk seperti cakar burung dan aku mulai menggesekkan ujung-ujung jemariku mulai dari bawah payudaranya di atas perut terus menuju gumpalan kedua buah dadanya yang kenyal dan montok. Kak Mira merintih dan menggelinjang antara geli dan nikmat. “Mm.. mmm… iih geli…” erangnya lirih.


Ngewe Majikan Yang Cantik

 


CERITAPA, Tujuanku datang ke Jakarta sebenarnya untuk merubah nasib Tapi siapa yang menyangka kalau ternyata kehidupan di kota besar, justru lebih keras dan pada di desa Aku sempat terlunta-lunta, tanpa ada seorangpun yang mau peduli Selembar ijazah SMP yang kubawa dari desa, ternyata tidak ada artinya sama sekali di kota ini



Jangankan hanya ijazah SMP, lulusan sarjana saja masih banyak yang menganggur Dari pada jadi gelandangan, aku bekerja apa saja asalkan bisa mendapat uang untuk menyambung hidup Sedangkan untuk kembali ke kampung, rasanya malu sekali karena gagal menaklukan kota metropolitan yang selalu menjadi tumpuan orang2 kampung sepertiku


Seperti hari-hari biasanya, siang itu udara di Jakarta terasa begitu panas sekali Seharian ini aku kembali mencoba untuk mencari pekerjaan. Tapi seperti yang selalu terjadi Tidak ada satupun yang melirik apa lagi memperhatikan lamaran dan ijazahku Keputusasaan mulai menghinggapi diriku Entah sudah berapa kilometer aku berjalan kaki Sementara pakaianku sudah basah oleh keringat


Dan wajahku juga terasa tebal oleh debu Aku berteduh di bawah pobon, sambil menghilangkan pegal-pegal di kaki Setiap hari aku berjalan Tidurpun di mana saja Sementara bekal yang kubawa dari kampung semakin menipis saja


Tiga atau empat hari lagi, aku pasti sudah tidak sanggup lagi bertahan Karena bekal yang kubawa juga tinggal untuk makan beberapa hari lagi Itupun hanya sekali saja dalam sehari Di bawah kerindangan pepohonan, aku memperhatikan mobil-mobil yang berlalu lalang


Juga orang2 yang yang selalu sibuk dengan urusannya masing-masing Tidak ada seorangpun yang peduli antara satu dengan lainnya Tiba-tiba pandangan mataku tertuju kepada seorang wanita yang tampak kesal karena mobilnya mogok


Dia ingin meminta bantuan, Tapi orang-orang yang berlalu lalang dan melewatinya tidak ada yang peduli Entah kenapa aku jadi merasa kasihan Padahal aku sendiri perlu dikasihani Aku bangkit berdiri dan melangkah menghampiri


“Mobilnya mogok, Nyonya ?”, tegurku dengan sikap ramah


“Eh, iya Nggak tahu ya kenapa, tiba-tiba saja mogok”, sahutnya sambil memandangiku penuh Curiga


“Boleh saya lihat ” ujarku meminta ijin


“silakan kalau bisa ” Waktu di kampung aku sering bantu-bantu paman yang buka bengkel motor Terkadang ada juga mobil yang minta diperbaiki Tapi namanya di kampung, jarang orang yang punya motor Apa lagi mobil Makanya usaha paman tidak pernah bisa maju Hanya cukup untuk makan sehari-hari saja


Seperti seorang ahli mesin saja, aku coba melihat-lihat dan memeriksa segala kemungkinan yang membuat mesin mobil ini tidak mau hidup Dan entah mendapat pertolongan dari mana, aku menemukan juga penyakitnya Setelah aku perbaiki, mobil itu akhirnya bisa hidup kembali


Tentu saja wanita pemilik mobil ini jadi senang Padahal semula dia sudah putus asa Dia membuka tasnya dan mengeluarkan uang lembaran dua puluh ribu Langsung disodorkan padaku Tapi aku tersenyum dan menggelengkan kepala


“Kenapa? Kurang ?”, tanyanya

“Tidak, Nyonya Terima kasih”, ucapku menolak halus

“Kalau kurang, nanti saya tambah”, katanya lagi


“Terima kasih Nyonya Saya cuma menolong saja Saya tidak mengharapkan imbalan”, kataku tetap menolak


Padahal uang itu nilainya besar sekali bagiku Tapi aku malah menolaknya Wanita yang kuperkirakan berusia sekitar tiga puluh delapan tahun itu memandangiku dengan kening berkerut Seakan dia tidak percaya kalau di kota yang super sibuk dengan orang-orangnya yang selalu mementingkan diri sendiri, tanpa peduli dengan lingkungan sekitarnya, ternyata masih ada juga orang yang dengan tanpa pamrih mau menolong dan membantu sesamanya


“Maaf, kelihatannya kamu dan kampung ?” ujarnya bernada bertanya ingin memastikan

“Iya, Nyonya Baru seminggu saya datang dari kampung”, sahutku polos

“Terus, tujuannya mau kemana?” tanyanya lagi

“Cari kerja”, sahutku tetap polos


“Punya ijazah apa?” “Cuma SMP ” “Wah, sulit kalau cuma SMP Sarjana saja banyak yang jadi pengangguran kok Tapi kalau kamu benar-benar mau kerja, kamu bisa kerja dirumahku”, katanya langsung menawarkan


“Kerja apa, Nyonya ?” tanyaku langsung semangat


“Apa saja Kebetulan aku perlu pembantu laki-laki Tapi aku perlu yang bisa setir mobil Kamu bisa setir mobil apa Kalau memang bisa, kebetulan sekali”, sahutnya


Sesaat aku jadi tertegun Sungguh aku tidak menyangka sama sekali Ternyata ijasah yang kubawa dan kampung hanya bisa dipakai untuk jadi pembantu Tapi aku memang membutuhkan pekerjaan saat ini Daripada jadi gelandangan, tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung menerima pekerjaan yang ditawarkan wanita itu saat itu juga, detik itu juga aku ikut bersama wanita ini ke rumahnya Ternyata rumahnya besar dan megah sekali Bagian dalamnyapun terisi segala macam perabotan yang serba mewah dan lux


Aku sampai terkagum-kagum, seakan memasuki sebuah istana Aku merasa seolah-olah sedang bermimpi Aku diberi sebuah kamar, lengkap dengan tempat tidur, lemari pakaian dan meja serta satu kursi Letaknya bersebelahan dengan dapur


Ada empat kamar yang berjajar Dan semuanya sudah terisi oleh pembantu yang bekerja di rumah ini Bahkan tiga orang pembantu wanita, menempati satu kamar Aku hitung, semua yang bekerja di rumah ini ada tujuh orang Kalau ditambah denganku, berarti ada delapan orang


Tapi memang pantas mengurus rumah sebesar ini, tidak mungkin bisa dikerjakan oleh satu orang Apalagi setelah beberapa hari aku bekerja di rumah ini aku sudah bisa mengetahui kalau majikanku, Nyonya Wulandari selalu sibuk dan jarang berada di rumah Juga suaminya yang lebih sering berada di luar kota atau ke luar negeri


Sedangkan kedua anaknya sekarang ini sekolah di luar negeri Aku jadi heran sendiri Entah bagaimana cara mereka mencari uang, hingga bisa kaya raya seperti ini Tapi memang nasib, rejeki, maut dan jodoh berada di tangan Tuhan Begitu juga yang terjadi denganku


Dari jadi pembantu yang tugasnya membersihkan rumah dan merawat tanaman, aku diangkat jadi sopir pribadi Nyonya majikan Bukan hanya jadi sopir, tapi juga sekaligus jadi pengawalnya Kemana saja Nyonya Majikan pergi, aku selalu berada di sampingnya Karena aku harus selalu mendampinginya, tentu saja Nyonya membelikan aku beberapa potong pakaian yang pantas


Terus terang, pada dasarnya memang aku tampan dan memiliki tubuhnya yang tegap, atletis dan berotot Makanya Nyonya jadi kesengsem begitu melihat penampilanku, setelah tiga bulan lamanya bekerja jadi sopir dan pengawal pribadinya Aku bisa berkata begitu karena bukan cuma jadi sopir dan pengawal saja


Tapi juga jadi pendampingnya di ranjang dan menjadi penghangat tubuhnya Mengisi kegersangan dan kesunyian hatinya yang selalu ditinggal suami Dan aku juga menempati kamar lain yang jauh lebih besar dan lebih bagus Tidak lagi menempati kamar yang khusus untuk pembantu


Semua bisa terjadi ketika malam itu aku baru saja mengantar Nyonya pergi berbelanja Setelah memasukkan mobil ke dalam garasi, aku langsung dipanggil untuk menemuinya Semula aku ragu dan hampir tidak percaya, karena langsung disuruh masuk ke dalam kamarnya Tapi memang Nyonya memintaku untuk masuk ke dalam kamarnya


Dia menyuruhku untuk menutup pintu, setelah aku berada di dalam kamar yang besar dan mewah itu Aku tertegun, apa lagi saat melihat Nyonya Majikanku itu hanya mengenakan pakaian tidur yang sangat tipis sekali, sehingga setiap lekuk bentuk tubuhnya membayang begitu jelas sekali


Dan di balik pakaiannya yang tipis itu, dia tidak mengenakan apa-apa lagi Beberapa kali aku menelan ludah sendiri memandang keindahan tubuhnya Sekujur tubukku mendadak saja jadi menggeletar seperti terserang demam, ketika dia menghampiri dan langsung melingkarkan kedua tangannya ke leherku


“Nyonya”


“Malam ini kau tidur di sini bersamaku ”


“Eh, oh ?!” Belum lagi aku bisa mengeluarkan kata-kata lebih banyak, Nyonya Wulandari sudah menyumpal mulutku dengan pagutan bibirnya yang indah dan hangat menggairahkan


Tentu saja aku jadi gelagapan, kaget setengah mati Dadaku berdebar menggemuruh tidak menentu Bcrbagai macam perasaan herkecamuk di dalam dada Ragu-ragu aku memegang pinggangnya Nyonya Wulandari membawaku ke pembaringannya yang besar dan empuk Dia melepaskan baju yang kukenakan, sebelum menanggalkan penutup tubuhnya sendiri Dan membiarkannya tergeletak di lantai Mataku seketika jadi nanar dan berkunang-kunang


Meskipun usia Nyonya Wulandari sudah hampir berkepala empat, tapi memang dia merawat kecantikan dan tubuhnya dengan baik Sehigga tubuhnya tetap ramping, padat dan berisi Tidak kalah dengan tubuh gadis-gadis remaja belasan tahun Bagaimanapun aku lelaki normal Aku tahu apa yang diinginkan Nyonya Wulandari Apa lagi aku tahu kalau sudah dua minggu ini suaminya berada di luar negeri Sudah barang tentu Nyonya Wulandari merasa kesepian


“Oh, ah ”


Nyonya Wulandari mendesis dan menggeliat saat ujung lidahku yang basah kian hangat mulai bermain dan menggelitik bagian ujung atas dadanya yang membusung dan agak kemerahan Jari-jari tangankupun tidak bisa diam Membelai dan meremas dadanya yang padat dan kenyal dengan penuh gairah yang membara


Bahkan jari-jari tanganku mulai menelusuri setiap bagian tubuhnya yang membangkitkan gairah Aku melihat Nyonya Wulandari dan sudah tidak kuasa lagi menekan gairahnya Sesekali dia merintih dengan suara tertahan sambil mendesak-desakkan tubuhnya Mengajakku untuk segera mendaki hingga ke puncak kenikmatan yang tertinggi


Tapi aku belum ingin membawanya terbang ke surga dunia yang bergelimang kehangatan dan kenikmatan itu Aku ingin merasakan dan menikmati dulu keindahan tubuhnya dan kehalusan kulitnya yang putih bagai kapas ini


“Aduh, oh Ahh , Cepetan dong, aku sudah nggak tahan nih ”, desah nafsu seks Nyonya Wulandari dengan suara rintihannya yang tertahan


Nyonya Wulandari menjepit pinggangku dengan sepasang pahanya yang putih dan mulus Tapi aku sudah tidak bisa lagi merasakan kehalusan kulit pahanya itu Karena sudah basah oleh keringat Nyonya majikanku itu benar-benar sudah tidak mampu lebih lama lagi bertahan


Dia memaksaku untuk cepat-cepat membawanya mendaki hingga ke puncak kenikmatan Aku mengangkat tubuhku dengan bertumpu pada kedua tangan Perlahan namun pasti aku mulai menekan pinggulku ke bawah Saat itu kedua mata Nyonya Wulandari terpejam


Dan dan bibirnya yang selalu memerah dengan bentuk yang indah dan menawan, mengeluarkan suara desisan panjang, saat merasakan bagian kebanggaan tubuhku kini sudah sangat keras dan berdenyut hangat mulai menyentuh dan menekan, mendobrak benteng pertahanannya yang terakhir Akhirnya batang penisku menembus masuk sampai ke tempat yang paling dalam divaginanya


“Okh, aah !” Nyonya Wulandari melipat kedua kakinya di belakang pinggangku


Dan terus menekan pinggulku dengan kakinya hingga batang kebanggaanku melesak masuk dan terbenam ke dalam telaga hangat yang menjanjikan berjuta-juta kenikmnatan itu Perlahan namun pasti aku mulai membuat gerakan-gerakan yang mengakibatkan Nyonya Wulandari mulai tersentak dalam pendakiannya menuju puncak kenikmatan yang tertinggi Memang pada mulanya gerakan-gerakan tubuhku cukup lembut dan teratur Namun tidak sampai pada hitungan menit, gerakan-gerakan tubuhku mulai liar dan tidak terkendali lagi


Beberapa kali Nyonya Wulandari memekik dan mengejang tubuhnya Dia menggigiti dada serta bahuku Bahkan jari-jari kukunya yang tajam dan runcing mulai mengkoyak kulit punggungku Terasa perih, tapi juga sangat nikmat sekali


Bahkan Nyonya Wulandari menjilati tetesan darah yang ke luar dari luka di bahu dan dadaku, akibat gigitan giginya yang cukup kuat Dan dia jadi semakin liar, hingga pada akhirnya wanita itu memekik cukup keras dan tertahan dengan sekujur tubuh mengejang saat mencapai pada titik puncak kenikrnatan yang tertinggi Dan pada saat yang hampir bersamaan, sekujur tubuhku juga menegang Dan bibirku keluar suara rintihan kecil


Hanya beberapa detik kemudian aku sudah menggelimpang ke samping, sambil menghembuskan napas panjang Nyonya Wulandari langsung memeluk dan merebahkan kepalanya di dadaku yang basah berkeringat Aku memeluk punggungnya yang terbuka, dan merasakan kehalusan kulit punggungnya yang basah berkeringat


Nyonya Wulandari menarik selimut, menutupi tubuh kami berdua Aku sempat memberinya sebuali kecupan kecil dibibirnya, sebelum memejamkan mata Membayangkan semua yang baru saja terjadi hingga terbawa ke dalam mimpi yang indah Sejak malam itu aku kerap kali dipanggil ke dalam kamarnya untuk melayani nafsu seks nya


Dan kalau sudah begitu, menjelang pagi aku baru keluar dari sana dengan tubuh letih Semula aku memang merasa beruntung bisa menikmati keindahan dan kehangatan tubuh Nyonya Majikanku Tapi lama-kelamaan, aku mulai dihinggapi perasaan takut


Betapa tidak, ternyata Nyonya Wulandari tidak pernah puas akan nafsu seks nya kalau hanya satu atau dua kali bertempur dalam semalam Aku baru menyadari kalau ternyata Nyonya Majikanku itu seorang maniak, yang tidak pernah puas dalam bercinta di atas ranjang Bukan hanya malam saja Pagi, siang sore dan kapan saja kalau dia menginginkan, aku tidak boleh menolak


Tidak hanya di rumah, tapi juga di hotel atau tempat-tempat lain yang memungkinkan untuk bercinta, memuaskan nafsu seks nya dan mencapai kenikmatan di atas ranjang Aku sudah mulai kewalahan menghadapinya Tapi Nyonya Wulandari selalu memberiku obat perangsang, kalau aku sudah mulai tidak mampu lagi melayani keinginan nafsu seks nya yang selalu berkobar-kobar itu


Aku tetap jadi supir dan pengawal pribadinya Tapi juga jadi kekasihnya di atas ranjang Mungkin karena aku sudah mulai loyo, Nyonya Wulandari membawaku ke sebuah club kesegaran Orang-orang bilang fitness centre Di sana aku dilatih dengan berbagai macam alat agar tubuhku tetap segar, kekar dan berotot


Dua kali dalam seminggu, aku selalu datang ke club itu Memang tidak kecil biayanya Tapi aku tidak pernah memikirkan biayanya Karena ditanggung oleh Nyonya Wulandari Dan di rumah, menu makanankupun tidak sama dengan pembantu yang lainnya


Nyonya Wulandari sudah memberikan perintah pada juru masaknya agar memberikan menu makanan untukku yang bergizi Bahkan dia memberikan daftar makanan khusus untukku Terus terang, aku merasa tidak enak karena diperlakukan istimewa


Tapi tampaknya semua pembantu di rumah ini sudah tidak asing lagi Bahkan dari Bi Minah, yang tugasnya memasak itu aku baru tahu kalau bukan hanya aku yang sudah menjadi korban kebuasan nafsu seks Nyonya Wulandari Tapi sudah beberapa orang pemuda seusiaku yang jadi korban


Dan mereka rata-rata melarikan diri, karena tidak tahan dengan perlakuan Nyonya Wulandari Aku memang sudah tidak bisa lagi menikmati indahnya permainan di atas ranjang itu Apa lagi Nyonya Wulandari sudah mulai menggunakan cara-cara yang mengerikan, Untuk memuaskan keinginan dan hasrat biologisnya yang luar biasa dan bisa dikatakan liar


Aku pernah diikat, dicambuk dan di dera hingga kulit tubuhku terkoyak Tapi Nyonya Wulandari malah mendapat kepuasan Wanita ini benar-benar seorang maniak Dan aku semakin tidak tahan dengan perlakuannya yang semakin liar dan brutal


Meskipun kondisi tubuhku dijaga, dan menu makanankupun terjamin gizinya, tapi batinku semakin tersiksa Beberapa orang pembantu sudah menyarankan agar aku pergi saja dan rumah ini Rumah yang besar dan megah penuh kemewahan ini ternyata hanya sebuah neraka bagiku


Aku memang ingin lari, tapi belum punya kesempatan Tapi rupanya Tuhan mengabulkan keinginanku itu Kebetulan sekali malam itu suami Nyonya Wulandari datang Aku sendiri yang menjemputnya di bandara Dan tentu tidak sendiri saja, tapi bersama Nyonya Wulandari Di dalam perjalanan aku tahu kalau suami Nyonya Majikanku itu hanya semalam saja Besok pagi dia sudah harus kembali ke Tokyo


Dari kaca spion aku melihat tidak ada gurat kekecewaan di wajah Nyonya Wulandari Padahal sudah hampir sebulan suaminya pergi Dan kini pulang juga hanya semalam saja Nyonya Wulandari malah tersenyum dan mencium pipi suaminya yang kendur dan berkeriput Setelah memasukkan mobil ke dalam garasi, aku bergegas ke kamar


Kesempatan bagiku untuk kabur dan rumah neraka ini Karena Nyonya Wulandari sedang sibuk dengan suaminya Aku langsung mengemasi pakaian dan apa saja milikku yang bisa termuat ke dalam tas ransel Saat melihat buku tabungan, aku tersenyum sendiri


Sejak bekerja di rumahi ini dan menjadi sapi perahan untuk pemuas nafsu seks Nyonya Majikan, tabunganku di bank sudah banyak juga Karena Nyonya Wulandan memang tidak segan-segan memberiku uang dalam jumlah yang tidak sedikit


Dan tidak sepeserpun uang yang diberikannya itu aku gunakan Semuanya aku simpan di bank Aku masukan buku tabungan itu ke dalam tas ransel, diantara tumpukan pakaian Tidak ada yang tahu kalau aku punya cukup banyak simpanan di bank Bahkan Nyonya Wulandari sendiri tidak tahu


Karena rencananya memang mau kabur, aku tidak perlu lagi berpamitan Bahkan aku ke luar lewat jendela Malam itu aku berhasil melarikan diri dari rumah Nyonya Wulandari Terbebas dari siksaan batin, akibat terus menerus dipaksa dan didera untuk memuaskan nafsu seks birahinya yang liar dan brutal


Tapi ketika aku lewat di depan garasi, ayunan langkah kakiku terhenti Kulihat Bi Minah ada di sana, seperti sengaja menunggu Dadaku jadi berdebar kencang dan menggemuruh Aku melangkah menghampiri Dan Wanita bertubuh gemuk itu mengembangkan senyumnya


“Jangan datang lagi ke sini Cepat pergi, nanti Nyonya keburu tahu ”, kata Bi Minah sambil menepuk pundakku


“Terima kasih, Bi”, ucapku Bi Minah kembali tersenyum


Tanpa membuang-buang waktu lagi, aku bergegas meniggalkan rumah itu Aku langsung mencegat taksi yang kebetulan lewat, dan meminta untuk membawaku ke sebuah hotel Untuk pertama kali, malam itu aku bisa tidur nyenyak di dalam kamar sebuah hotel Dan keesokan harinya, setelah mengambil semua uangku yang ada di bank, aku langsung ke stasiun kereta


Aku memang sudah bertekad untuk kembali ke desa, dan tidak ingin datang lagi ke Jakarta Dari hasil tabunganku selama bekerja dan menjadi pemuas nafsu seks Nyonya Wulandari, aku bisa membuka usaha di desa Bakkan kini aku sudah punya istri yang cantik dan seorang anak yang lucu


Cerita sex - Aku selalu berharap, apa yang terjadi pada diriku jangan sampai terjadi pada orang lain. Kemewahan memang tidak selamanya bisa dinikmati dengan nafsu seks. Justru kemewahan bisa menghancurkan diri jika tidak mampu mengendalikannya.


Tante Maya Rasa Perawan

 

CERITAPA, Pada suatu siang sekitar jam 12-an aku berada di sebuah toko buku di Gatot Subroto untuk membeli majalah edisi khusus, yang katanya sih edisi terbatas. Hari itu aku mengenakan kaos t-shirt putih dan celana katun abu-abu



Sebenarnya potongan badanku sih biasa saja, tinggi 170 cm berat 63 kg, badan cukup tegap, rambut cepak Wajahku biasa saja, bahkan cenderung terkesan sangar Agak kotak, hidung biasa, tidak mancung dan tidak pesek, mataku agak kecil selalu menatap dengan tajam, alisku tebal dan jidatku cukup pas deh Jadi tidak ada yang istimewa denganku


Saat itu keadaan di toko buku tersebut tidak ramai, meskipun saat itu adalah jam makan siang, hanya ada sekitar 7-8 orang Aku segera mendatangi rak bagian majalah Nah, ketika aku hendak mengambil majalah tersebut ada tangan yang juga hendak mengambil majalah tersebut Kami sempat saling merebut sesaat (sepersekian detik) dan kemudian saling melepaskan pegangan pada majalah tersebut hingga majalah tersebut jatuh ke lantai


“Maaf ” kataku sambil memungut majalah tersebut dan memberikannya kepada orang tersebut yang ternyata adalah seorang wanita yang berumur sekitar 37 tahun (dan ternyata tebakanku salah, yang benar 36 tahun), berwajah bulat, bermata tajam (bahkan agak berani), tingginya sama denganku (memakai sepatu hak tinggi), dan dadanya cukup membusung


“Busyet! montok juga nih ibu-ibu”, pikirku


“Nggak pa-pa kok, nyari majalah X juga yah saya sudah mencari ke mana-mana tapi nggak dapet”, katanya sambil tersenyum manis


“Yah, edisi ini katanya sih terbatas Tante ”

“Kamu suka juga fotografi yah?”

“Nggak kok, cuma buat koleksi aja kok ”


Lalu kami berbicara banyak tentang fotografi sampai akhirnya,


“Mah, Mamah. Ira sudah dapet komiknya, beli dua ya Mah”, potong seorang gadis cilik masih berseragam SD


“Sudah dapet Ra. oh ya maaf ya Dik, Tante duluan”, katanya sambil menggandeng anaknya


Ya sudah, nggak dapat majalah ya nggak pa-pa, aku lihat-lihat buku terbitan yang baru saja


Sekitar setengah jam kemudian ada yang menegurku


“Hi, asyik amat baca bukunya”, tegur suara wanita yang halus dan ternyata yang menegurku adalah wanita yang tadi pergi bersama anaknya Rupanaya dia balik lagi, nggak bawa anaknya


“Ada yang kelupaan Tante?”

“Oh tidak ”

“Putrinya mana, Tante?

“Les piano di daerah Tebet”

“Nggak dianter?”

“Oh, supir yang nganter ”


Kemudian kami terlibat pembicaraan tentang fotografi, cukup lama kami berbicara sampai kaki ini pegal dan mulut pun jadi haus Akhirnya Tante yang bernama Maya tersebut mengajakku makan fast food di lantai bawah


Aku duduk di dekat jendela dan Tante Maya duduk di sampingku Harum parfum dan tubuhnnya membuatku konak Dan aku merasa, semakin lama dia semakin mendekatkan badannya padaku, aku juga merasakan tubuhnya sangat hangat


Busyet dah, lengan kananku selalu bergesekan dengan lengan kirinya, tidak keras dan kasar tapi sehalus mungkin Kemudian, kutempelkan paha kananku pada paha kirinya, terus kunaik-turunkan tumitku sehingga pahaku menggesek-gesek dengan perlahan paha kirinya Terlihat dia beberapa kali menelan ludah dan menggaruk-garukkan tangannya ke rambutnya Wah dia udah kena nih, pikirku Akhirnya dia mengajakku pergi meninggalkan restoran tersebut


“Ke mana?” tanyaku

“Terserah kamu saja”, balasnya mesra


“Kamu tahu nggak tempat yang privat yang enak buat ngobrol”, kataku memberanikan diri, terus terang aja nih, maksudku sih motel


“Aku tahu tempat yang privat dan enak buat ngobrol”, katanya sambil tersenyum


Kami menggunakan taksi, dan di dalam taksi itu kami hanya berdiam diri lalu kuberanikan untuk meremas-remas jemarinya dan dia pun membalasnya dengan cukup hot Sambil meremas-remas kutaruh tanganku di atas pahanya, dan kugesek-gesekkan Hawa tubuh kami meningkat dengan tajam, aku tidak tahu apakah karena AC di taksi itu sangat buruk apa nafsu kami sudah sangat tinggi


Kami tiba di sebuah motel di kawasan kota dan langsung memesan kamar standart Kami masuk lift diantar oleh seorang room boy, dan di dalam lift tersebut aku memilih berdiri di belakang Tante Maya yang berdiri sejajar dengan sang room boy Kugesek-gesekan dengan perlahan burungku ke pantat Tante Maya, Tante Maya pun memberi respon dengan menggoyang-goyangkan pantatnya berlawanan arah dengan gesekanku


Ketika room boy meninggalkan kami di kamar, langsung kepeluk Tante Maya dari belakang, kuremas-remas dadanya yang membusung dan kucium tengkuknya “Mmhhh kamu nakal sekali deh dari tadi hhm, aku sudah tidak tahan nih”, sambil dengan cepat dia membuka bajunya dan dilanjutkan dengan membuka roknya Ketika tangannya mencari reitsleting roknya, masih sempat-sempatnya tangannya meremas batanganku


Dia segera membalikkan tubuhnya, payudaranya yang berada di balik BH-nya telah membusung “Buka dong bajumu”, pintanya dengan penuh kemesraan Dengan cepat kutarik kaosku ke atas, dan celanaku ke bawah Dia sempat terbelalak ketika melihat batang kemaluanku yang sudah keluar dari CD-ku


Kepala batangku cuma 1/2 cm dari pusar Aku sih tidak mau ambil pusing, segera kucium bibirnya yang tipis dan kulumat, segera terjadi pertempuran lidah yang cukup dahsyat sampai nafasku ngos-ngosan dibuatnya


Sambil berciuman, kutarik kedua cup BH-nya ke atas (ini adalah cara paling gampang membuka BH, tidak perlu mencari kaitannya) Dan bleggh , payudaranya sangat besar dan bulat, dengan puting yang kecil warnanya coklat dan terlihat urat-uratnya kebiruan Tangan kananku segera memilin puting sebelah kiri dan tangan kiriku sibuk menurunkan CD-nya


Ketika CD-nya sudah mendekati lutut segera kuaktifkan jempol kaki kananku untuk menurunkan CD yang menggantung dekat lututnya, dan bibirku terus turun melalui lehernya yang cukup jenjang Nafas Tante Maya semakin mendengus-dengus dan kedua tangannya meremas-remas buah pantatku dan kadang-kadang memencetnya


Akhirnya mulutku sampai juga ke buah semangkanya Gila, besar sekali ampun deh, kurasa BH-nya diimpor secara khusus kali Kudorong tubuhnya secara perlahan hingga kami akhirnya saling menindih di atas kasur yang cukup empuk Segera kunikmati payudaranya dengan menggunakan tangan dan lidahku bergantian antara kiri dan kanan


Setelah cukup puas, aku segera menurunkan ciumanku semakin ke bawah, ketika ciumanku mencapai bagian iga, Tante Maya menggeliat-geliat, saya tidak tahu apakah ini karena efek ciumanku atau kedua tanganku yang memilin-milin putingnya yang sudah keras Dan semakin ke bawah terlihat bulu kemaluannya yang tercukur rapi, dan wangi khas wanita yang sangat merangsang membuatku bergegas menuju liang senggamanya dan segera kujilat bagian atasnya beberapa kali


Kulihat Tante Maya segera menghentak-hentakkan pinggulnya ketika aku memainkan klitorisnya Dan sekarang terlihat dengan jelas klitorisnya yang kecil Dengan rakus kujilat dengan keras dan cepat Tante Maya bergoyang (maju mundur) dengan cepat, jadi sasaran jilatanku nggak begitu tepat, segera kutekan pinggulnya Kujilat lagi dengan cepat dan tepat, Tante Maya ingin menggerak-gerakkan pinggulnya tapi tertahan Tenaga pinggulnya luar biasa kuatnya


Aku berusaha menahan dengan sekuat tenaga dan erangan Tante Maya yang tadinya sayup-sayup sekarang menjadi keras dan liar Dan kuhisap-hisap klitorisnya, dan aku merasa ada yang masuk ke dalam mulutku, segera kujepit diantara gigi atasku dan bibir bawahku dan segera kugerak-gerakkan bibir bawahku ke kiri dan ke kanan sambil menarik ke atas


Tante Maya menjerit-jerit keras dan tubuhnya melenting tinggi, aku sudah tidak kuasa untuk menahan pinggulnya yang bergerak melenting ke atas Terasa liang kewanitaannya sangat basah oleh cairan kenikmatannya Dan dengan segera kupersiapkan batanganku, kuarahkan ke liang senggamanya dan, “Slebbb…” tidak masuk, hanya ujung batanganku saja yang menempel dan Tante Maya merintih kesakitan


“Pelan-pelan Ndi”, pintanya lemah


“Ya deh Tante”, dan kuulangi lagi, tidak masuk juga Busyet nih cewek, sudah punya anak tapi masih kayak perawan begini Segera kukorek cairan di dalam liang kewanitaannya untuk melumuri kepala kemaluanku, lalu perlahan-lahan tapi pasti kudorong lagi senjataku


“Aarrghh pelan Ndi ” Busyet padahal baru kepalanya saja, sudah susah masuknya Kutarik perlahan, dan kumasukan perlahan juga


Pada hitungan ketiga, kutancap agak keras “Arrhhghh…” Tante Maya menjerit, terlihat air matanya meleleh di sisi matanya


“Kenapa Tante, mau udahan dulu?” bisikku padda Tante Maya setelah melihatnya kesakitan

“Jangan Ndi, terus aja”, balasnya manja


Kemudian kumainkan maju mundur dan pada hitungan ketiga kutancap dengan keras Yah, bibir kemaluannya ikut masuk ke dalam Wah sakit juga, habis sampai bulu kemaluannya ikut masuk, bayangkan aja, bulu kemaluan kan kasar, terus menempel di batanganku dan dijepit oleh bibir kewanitaan Tante Maya yang ketat sekali


Dengan usaha tiga hitungan tersebut, akhirnya mentok juga batanganku di dalam liang senggama Tante Maya Terus terang saja, usahaku ini sangat menguras tenaga, hal ini bisa dilihat dari keringatku yang mengalir sangat deras


Setelah Tante Maya tenang, segera senjataku kugerakkan maju mundur dengan perlahan dan Tante Maya mulai menikmatinya Mulai ikut bergoyang dan suaranya mulai ikut mengalun bersama genjotanku Akhirnya liang kewanitaan Tante Maya mulai terasa licin dan rasa sakit yang diakibatkan oleh kasar dan lebatnya bulu kemaluannya sedikit berkurang dan bagiku ini adalah sangat nikmat


Baru sekitar 12 menitan menggenjot, tiba-tiba dia memelukku dengan kencang dan, “Auuwwww… ”, jeritannya sangat keras, dan beberapa detik kemudian dia melepaskan pelukannya dan terbaring lemas


“Istirahat dulu Tante”, tanyaku


“Ya Ndi aku ingin istirahat, abis capek banget sich Tulang-tulang Tante terasa mau lepas Ndi”, bisiknya dengan nada manja


“Oke deh Tante, kita lanjutkan nanti aja ”, balasku tak kalah mesranya

“Ndi, kamu sering ya ginian sama wanita lain ”, pancing Tante Maya

“Ah nggak kok Tante, baru kali ini”, jawabku berbohong


“Tapi dari caramu tadi terlihat profesional Ndi, Kamu hebat Ndi.. Sungguh perkasa”, puji Tante Maya


“Tante juga hebat, lubang surga Tante sempit banget sich , padahal kan Tante udah punya anak”, balasku balik memuji


“Ah kamu bisa aja, kalau itu sich rahasia dapur”, balasnya manja


Kamipun tertawa berdua sambil berpelukan


Tak terasa karena lelah, kami berdua tertidur pulas sambil berpelukan dan kami kaget saat terbangun, rupanya kami tertidur selama tiga jam Kami pun melanjutkan permainan yang tertunda tadi Kali ini permainan lebih buas dan liar, kami bercinta dengan bermacam-macam posisi


Dan yang lebih menggembirakan lagi, pada permainan tahap kedua ini kami tidak menemui kesulitan yang berarti, karena selain kami sudah sama-sama berpengalaman, ternyata liang senggama Tante Maya tidak sesempit yang pertama tadi, mungkin karena sudah ditembus oleh senjataku yang luar biasa ini sehingga kini lancarlah senjataku memasuki liang sorganya


Cerita sex - Tapi permainan ini tidak berlangsung lama karena Tante Maya harus cepat-cepat pulang menemui anaknya yang sudah pulang dari les piano.


Lendir Cinta Almira



CERITAPA,
 Sungguh sial ternyata aqu hari itu, aqu terjatuh dari motor karena disrempet seseorang yg tak bertanggung jawab dan langsung meninggalkanku begitu saja. aqu pun sejenak tersungkur dipinggir jalan karena jalanan saat itu sedang sepi sekali. Aqu pun berusaha bangkit dan menepi didepan sebuah ruah besar dgn tertatih-tatih. Sesudah aqu sampe ditepi jalan aqu duduk sembari menyenderkan tubuhku dipsupaya rumah besar itu, sembari terus menahan sakit di kaki dan tanganku.


Sesudah sekitar 15 menit aqu menahan sakit tanpa ada yg menolongku, akhirnya ada sebuah mobil yg berhenti. Turunlah seorang perempuan setengah baya kira-kira usianya 37 tahunan dgn pakaian warna merah yg sangat seksi dgn kemudian mengahampiriku. Ditanyalah aqu sama aunty-aunty itu, kenapa aqu disitu dan aqu pun menjelaskan kronologinya sembari terus melihat paha mulus aunty-aunty itu. Karena saat itu aunty menggunakan rok yg mini sehingga aqu bisa melihatnya dgn jelas.


Sesudah aqu selesai menjelaskan kronologi kejadian yg aqu alami, akhirnya aunty itu mau menolongku dan mengajakku kedalem, tetapi sebelumnya aunty memasukkan mobilnya kedalem rumah besar yg tadi aqu buat sandaran. Tak lama akhirnya aunty itu kembali dan membatu membopongku masuk kedalem rumahnya.


“Kamu duduk aja di sini, biar Aunty ambilin obat ya…” kata perempuan itu dan segera masuk ke dalem kamarnya yg letaknya di depanku. Perkiraanku perempuan ini usianya sekitar 36, walaupun usianya ya… cukup tua sih. Tapi perempuan ini bodinya oke sekali deh, tingginya sekitar 165 cm buah dada yg montok berukuran sekitar 36B dan masih terangkat dgn menggunakan kaos yg longgar dan bokong yg besar sekali karena pada saat itu dia pakai rok pendek sampe lutut dan kelihatan betis yg mulus dgn ditumbuhi rambut halus.


Aqu sempat berkhayal untuk memegang bokongnya yg besar sekali, kuremas-remas sembari memasukkan jariku ke lobang kenikmatannya. Sesudah beberapa menit dia mencari obat merah di kamarnya, dia memanggil anaknya,


“Ver.. Ver…ambilin minum tuh… buat Mas nya!” ternyata dia punya anak perempuan yg namanya Vera, usianya sekitar 18 tahunan. Sesudah berhasil menemukan obat merah, lalu menghampiriku.

“Wah… ini lukanya parah sekali …” sembari membuka tutup obat merah.

“Ah.. nggak kok Bu… biasa aja kok,” kataqu sembari memperhatikan buah dadanya yg montok tergelantung itu.

“Nama Kamu siapa?” tanya Aunty itu sembari meneteskan obat merah di lengan atasku.

“Dayat Aunty, aduh pedih sekali… pelan-pelan Aunty…!”

“Maaf ya… Dayat, oh ya nama Aunty Almira,” katanya sembari meneteskan ulang obat itu di lengan atasku.


Dan tak disengaja buah dada Almira itu menyenggol sikuku.


“Oh… maaf Aunty… tak sengaja,” tanyaqu sembari melihat buah dada Almira yg memAuntyat kemaluanku agak tegang.

Dia hanya tersenyum dan tertawa kecil.

“Lho… Dayat yg kena yg mana lagi, kelihatannya celana kamu sobek tuh…” katanya sembari memegang celanaqu yg sobek itu.

“Ya… Aunty itu di bagian paha atas dan di dada ini,” sembari memAuntyka sedikit kaos yg kupakai.

“Yg ini harus diobati loh, entar kalau tak cepet diobati berbahaya, kaki kamu bisa di luruskan nggak?” kata Aunty Almira.

“Agak linu Aunty… karena bagian paha sih…” kataqu sembari mencari kesempatan melihat buah dada.


Pada saat itu tempat dudukku tak memungkinkan aqu meluruskan kakiku.


“Ya… sudah ke kamar Aunty dulu situ berbaring biar kakimu bisa diluruskan,” kata Aunty Almira sembari membantuku berdiri dan berjalan.

“Ya… Aunty… tapi…?” tanyaqu ragu.


Nanti disangka macam-macam, tapi memang niatku untuk berusaha nge-sex sama Aunty Almira yg montok itu.


“Tapi apa, oh… kamu malu ya… nyantai aja kamu kan teluka dan perlu pengobatan, sudah masuk ayo Aunty bantu!” sembari melingkarkan tangan kanan di pundak Aunty Almira aqu berjalan.


Dan tak disengaja saat berjalan, jari-jariku menyentuh permukaan buah dada montok Aunty Almira tapi aqu tak merubahnya, malah kugesek-gesekkan dgn pelan-pelan supaya tak ketahuan kalau disengaja, terasa pentil buah dada Aunty Almira yg kenyal menyebabkan kemaluanku tegang. Dan sampelah di tempat tidur Aunty Almira.


“Sudah Dayat, mana yg luka lagi?” sembari duduk di sampingku dan membelakangiku sementara aqu terlentang, otomatis tanganku menempel di paha mulus Aunty Almira.

“Di dada sini Aunty,” kataqu sembari memAuntyka ke atas kaosku supaya kelihatan lukanya.

“Ya… sudah dilepas dulu kaosnya, entar kalau kena obat ini kan jadi merah,” katanya basa-basi.


Aqu langsung Auntyka kaosku, dan sekarang aqu telanjang dada.


“Nah gini kan bisa leluasa mengobati kamu,” sembari mendekat ke dadaqu, dan otomatis aqu melihat dgn jelas buah dada Aunty Almira tergelantung dan ditutupi oleh Bra yg tak muat menampung besarnya buah dada Aunty Almira dan tanganku makin kurapatkan ke paha dan sekarang sudah di atas paha mulus Aunty Almira. Dan pada saat Aunty Almira meneteskan obat, aqu terasa pedih dan dgn refleks tanganku terangkat sehingga menyenggol buah dada Aunty Almira dan rok mini Aunty Almira terangkat ke atas, terlihat paha yg mulus itu.

“Maaf ya.. Aunty, Dayat tak sengaja kok,” pintaqu sembari menurunkan tanganku ke paha Aunty Almira yg mulus dan putih itu.

“Ya.. tak apa-apa kok,” sembari meneruskan meneteskan lagi di bagian dadaqu yg luka.


Sekarang dia agak ke atas dan membungkukkan dirinya, otomatis buah dada yg montok itu dekat sekali dgn wajahku itu. Aqu tak tahu ini disengaja atau tak, tapi Auntyatku disengaja atau tak tetap saja membuat kemaluanku makin tegang. Lama-lama kok posisi Aunty Almira makin membungkuk dan sampe suatu saat buah dadanya tersentuh dgn bibirku. Wah, terasa kenyal dan empuk, aqu tak diam saja, aqu berusaha pelan-pelan menggeser tanganku yg di paha mulus Aunty Almira itu, pelan dan pelan karena aqu taqut Aunty Almira marah karena ulahku ini.


Dgn nafsu yg kutahan, aqu gerak-gerakkan tanganku. Waduh.. paha orang ini mulus sekali, batinku sembari merasakan kemaluan yg menegang kepingin lepas dari sangkarnya celana dalem, dan sampelah aqu di pangkal paha Aunty Almira itu dan menyentuh celana dalem Aunty Almira yg kelihatan memakai celana dalem warna hijau kembang dan kepalaqu bergerak ke kanan dan ke kiri untuk menggesek buah dada Aunty Almira (pelan-pelan), dan sesekali kujilat halus buah dada montok itu, saat itu Aunty Almira diam saja dan terus mengobati dadaqu yg luka tapi nafas Aunty Almira tak bisa disembunyikan, sering dia menarik nafas panjang untuk menahan nafsunya.


“Sudah nihhh… Semua luka kamu di dada sudah diobati, sekarang mana lagi yg terluka?” sembari melihatku dan membiarkan tanganku di pahanya yg mulus itu.

“Itu Aunty.. di paha atas,” jawabku sembari menunjukkan tempat yg luka.

“Wow… Ya ini harus dbuka Dayat, kalau tak dAuntyka dimana Aunty bisa mengobati apalagi kamu pakai jeans yg ketat.. ya sudah dicopot aja!” jawab Aunty Almira sembari melihat dgn dekat luka dari luar celanaqu dan sesekali lihat kemaluanku yg sudah tegang dari tadi.

“Aunty… bisa bantuin copot celanaqu, aqu tak bisa copot sendiri Aunty, kan tanganku luka,” alasanku supaya Aunty Almira bisa lihat kemaluanku dari dekat. Tiba-tiba Verona datang dgn membawa air putih.

“Mah ini airnya..”

“Ya.. sudah sekarang kamu keluar, e.. jangan lupa tutup pintunya, Aunty mau obati Mas Dayat dulu!”


Wah ini kesempatanku untuk melampiaskan hasrat Sex ku. Sesudah itu Aunty Almira mulai membuka resleting celanaqu dan membuka bagian atas dan aqu mengangkat sedikit pinggulku supaya Aunty Almira mudah melepas celanaqu. Saat memuka celanaqu, posisi Aunty Almira membungkuk sehingga bibirnya dekat dgn kemaluanku yg tegang, dan aqu sengaja mengangkat pinggul yg lebih tinggi dan tersembullah kemaluanku dan bibir Aunty Almira… “


Sorry Aunty.. gak sengaja,” mulai saat itu kemaluanku mulai tegang sekali karena cara Aunty Almira membuka celanaqu sangat merangsang kemaluanku.


Sembari sedikit menungging dan menggerakkan sedikit bokong yg besar itu, Aunty Almira melepas celana jeans-ku “apa ini usaha Aunty Almira untuk merangsang nafsuku”, dan akhirnya aqu sekarang tinggal pakai celana dalem. Dan mulailah Aunty Almira mengobati paha atasku dgn posisi nungging membelakangiku dan sedikit siku tangannya menyentuh kemaluan yg sudah tegang. Sesekali Aunty Almira melihat kemaluanku dan menggesek-gesekkan sikunya di kemaluanku itu. Dgn melihat gelagat Aunty Almira ini yg memberi peluang padaqu, aqu tak diam aja.


Dgn melihat bokong yg besar menghadap kepadaqu, tanganku mulai sedikit meremas-remas dan mengelus betis lalu menuju ke atas paha yg mulus dan akhirnya aqu sampe ke paling atas bokong mulus Aunty Almira dan aqu nekat mengangkat rok mini Aunty Almira ke atas sehingga sekarang terlihat bokong Aunty Almira yg mulus itu dgn ditutupi celana dalem yg menyelepit di belahan bokong.


Aqu mulai mengelus-elus, dan sesekali menarik celana dalem Aunty Almira dan ternyata sudah basah dari tadi.Lalu aqu memainkan jariku di permukaan kemaluan yg tertutup celana dalem itu, Aunty Almira mungkin sudah tahu gelagatku itu sehingga dia merenggangkan kedua pahanya, jadi sekarang terlihat jelas celana dalem Aunty Almira yg basah. Sekarang aqu memberanikan diri untuk melihat secara langsung kemaluan Aunty Almira yg kelihatan sudah tak sabar untuk dimasuki rudalku yg sudah tegak berdiri. Aqumulai menggeser celana dalem Aunty Almira ke kiri dan kelihatan dgn jelas kemaluan Aunty Almira yg sudah memerah itu. Lalu aqu perlahan-lahan menggesek-gesekkan jariku di permukaan kemaluan Aunty Almira dan dgn reaksi itu nafas Aunty Almira mulai tak beraturan,


“Eeehhh… ahhh… ohhh hemmm..” dan sekarang aqu memasukkan jari tengahku ke lobang kenikmatan Aunty Almira dgn pasti dan kukocok dan terus kukocok dgn pelan-pelan dan lama-lama semakin cepat dan…

“Ah.. oh yes te… rus… please… ah… ohe.. lebih dalem.. Deerr…

“Aunty Almira mulai membuang obat merah itu dan sekarang tak mengobati lukaqu lagi malah sekarang dia sudah mulai mengocok dan meremas dgn kuat kemaluanku.


Aqu kurang puas dgn posisi ini, aqu mulai mengangkat salah satu kaki Aunty Almira ke sampingku dan sekarang posisi 69 yg kudapat, dan kemaluan Aunty Almira tepat di depan bibirku. Aqu mulai menjilat klitorisnya, dan kusedot kecil dan kupermainkan pinggir kemaluan Aunty Almira dgn lidahku yg indah itu.


“Oh.. ya… enak sekali hisapanmu … Oh aughhh ahhh yes… terus!” dan aqu mulai memasukkan lidahku ke dalem lobang yg basah itu dan terasa asin tapi gurih.

“Oh… ah… terus… Kemaluan kamu tegang sekali Dayat…”

“Ya.. Aunty jilat… jilat dong..!”

Tanpa banyak kata Aunty Almira terus melumat habis kemaluanku.

“Oh… ya… ya… terus yg keras lagi…!”


Aunty Almira memang lihai dalem hal oral, tak satu bagian pun dari kemaluanku yg terlewatkan dari lidah birahi Aunty Almira. Telur kemaluanku terlahap juga dgn bibir binalnya. Aunty Almira tak puas sampe di situ, sekarang dia mengangkat bokongku lebih tunggi dan kelihatan jelas lobang duburku dan sekarang mempermainkan lidahnya di lobang duburku. Oh, terasa geli bercampur nikmat sampe ujung ramAuntyt, pada saat itu juga Aunty Almira tak kuat menahan nikmat yg dia rasakan, dan aqu tahu kalau Aunty Almira mau orgasme yg pertama kalinya, aqu mempercepat gerakan lidahku diklitorisnya, dan mempercepat kocokkan jariku di kemaluannya dan akhirnya…


“ah ye.. yea.. aqu tak tahan.. a.. ku.. ke.. luaaar…” dan

“Serr… serrr..” terasa semprotan kuat dari kemaluan Aunty Almira kena jariku.


Cairan putih kental yg keluar dari kemaluan Aunty Almira kusedot habis sampe bersih cairan kenikmatan Aunty Almira tersebut. Dia sekarang tergeletak lemas di sampingku.


“Aunty Almira masih kuat? Apa cukup saja Aunty?” tanyaqu disamping memelintir pentil buah dadanya ygkuharapkan hasrat sex Aunty Almira kembali lagi dan terangsang.

“Ah.. kamu jantan sekali! Aqu tak nygka kamu kuat sekali, kamu belum keluar?” tanya Aunty Almira sembari mengocok halus kemaluanku yg masih tegang itu.

“Belum Aunty! mau lagi atau…”


Belum aqu berhenti ngomong Aunty Almira mulai memasukkan kemaluanku ke bibirnya dan dijilat, disedot dan dikocok, sedangkan aqu di pinggir tempat tidur dan Aunty Almira di atas tempat tidur dgn posisi nungging,  dan aqu tetap meremas-remas dan sesekali kupelintir-pelintir pentil Aunty Almira itu.


“Aah… terus Aunty…! lebih dalem Aunty…! yes hemmm Aah… sessttt aahh…”

“masukin aja ya… aqu pingin ngerasain kemaluan kamu ini,”


Lalu aqu memutarkan tubuh Aunty Almira dgn posisi nungging dan aqu mulai mengarahkan kemaluanku ke lobang Aunty Almira tapi aqu tak langsung memasukkan kemaluanku, kugesek-gesek dulu ke permukaan kemaluan Aunty Almira.


“Ah.. ya… masukkan Yaattt.. cepet aqu tak tahan nih… oh… ce… pet!”


Aqu langsung memasukkan ke lobang Aunty Almira.


“Blesss… sleppp…”

“Ah… ye…” erang Aunty Almira menerima serangan batang kemaluanku.Aqu mulai memajukan dan memundurkan kemaluanku dgn pelan tapi pasti dan sekarang aqu tambah frekuensi kecepatan kocokanku.

“Ah… ya.. kemaluan kamu.. hebat Yaattt.. keras, te.. rus.. oh.. ssst… ah…”


Aqu semakin terangsang dgn erangan Aunty Almira yg menggeliat-liat seperti cacing kebakar. Aqu angkat kaki kanannya untuk mempermudah jelajah kemaluanku untuk sampe ke rahimnya dan makin mempercepat kocokanku.


“Oh ya.. aughhh.. ssttt teruss.. jangan ber.. henti.. ah… ke.. rass.. Dayat.. hebat…” Dan akhirnya,

“Yaattt… lebih cepet…! aqu mau ke.. luar.. aqu.. tak… oh.. ye.. tahan… la.. gi.. ah… oh shhh…”


Dan akhirnya dia menyemprotkan cairan kenikmatannya,


“Serr.. serr…” terasa ujung kemaluanku disemprot dgn cairan hangat yg kental. Sekarang Aunty Almira tergulai lemas di hadapanku. Aqu memperhatikan tubuh Aunty Almira yg montok dgn buah dada yg besar, dgn telanjang Auntylat tanpa sehelai benang pun.


Aqu tetap mengocok sendiri kemaluanku biar tetap tegang, dan aqu mulai tak kuat, mungkin ini saatnya aqu untuk mengakhiri permainan Sex ku.


“Aunty… permisi, aqu mau mengakhiri tugasku ini…”


Dgn mengangkat tubuh Aunty Almira ke pinggir tempat tidur, dan memAuntyka lebar-lebar paha Aunty Almira sehingga terpampang kemaluan Aunty Almira yg masih basah dgn cairan kenikmatannya, aqu mulai memasukkan kemaluan dan mengocoknya.


“Ah.. kau nakal ya.. Yaattt.. aughhh hemmm.. terus Yaattt…”


Aqu dgn semangat kukocok habis kemaluan Aunty Almira dgn menggesek-gesek klitorisnya dgn jari jempolku untuk mempercepat dia untuk orgasme ketiga kalinya, dan…


“Aunty… aqu mau ke… luar.. ah.. ye… di.. mana.. ini… dalem atau di luar… oh ye!” sembari mempercepat kocokan jari dan kemaluanku.


“Ya.. aqu juga Dayat… uh.. uh.. hemm… sstt.. kita.. barengan di dalem.. oh ye..”


Aunty Almira tak kuat lagi ngomong kecuali merem-melek tahan nafsu, dan akhirnya aqu keluar di dalem kemaluan Aunty Almira,


“Crottt.. crottt…” sampe lima kali semprotan dan dibarengi dgn erangan dan getaran tubuh Aunty Almira,


“Oh… yak.. yes… hemmm…” Lalu kucabut kemaluanku dan kupukul-pukulkan di permukaan kemaluan Aunty Almira dgn reaksi Aunty Almira mengangkat tubuhnya akibat kemaluannya kupukul dgn kemaluanku.


“Aunty Almira hebat sekali deh, makasih ya Aunty…”


“Kamu juga hebat banget Dayat.. Aunty sampe kualahan menghadapi Kemaluan kamu yg tegap ini. Wah… Kemaluan kamu ini harus dibersihkan dulu ya…”


Dia langsung mengarahkan kemaluanku ke bibirnya dan dilahap langsung dan dikocok-kocok habis.


“Wow… oh… ye.. teruus.. yesss… sseessttt ahh ya…”


Ini membuatku tegang lagi, dan Aunty Almira tak henti-hentinya mengocok dan mengulum kemaluanku yg tegang sekali.


“Aunty… stop.. augghhhh he… stooop aqu.. tak.. tahan..” Dan…


“Croot… croottt… Croot… croottt… Croot… croottt… Croot… croottt…”


Kukeluarkan air maniqu untuk kedua kalinya di wajah Aunty Almira, dan aqu tergeletak lemas di atas buah dada Aunty Almira.


“Nah.. sekarang kan Aunty Almira tak kalah banget toh.. ya.. dua-tiga lah…!”


“Makasih ya.. Yaattt… kamu hebat dalem permainan sex, kapan-kapan kita lagi ya.. sudah kamu tidur dulu deh!”


Cerita sex - Lalu aku tertidur sampe malam, dan sebelum pulang ke kostku, sempat Aunty Almira minta untuk oral sekali lagi.


Peliharaan Tante Hyper

 



Nаmаku Andrе аku bеrаѕаl dаri kоtа Pаlеmbаng, аku bеkеrjа ѕеbаgаi реmuаѕ tаntе – tаntе аtаu оrаng lеbih fаmiliаr dеngаn ѕеbutаn gigоlо, ѕuаtu kеtikа аku diѕuruh mеlауаni tаntе 2 оrаng.


Sеjаk itu аku mеmрunуаi реlаnggаn tеtар nаmаnуа Tаntе Rahel, diа ѕеоrаng jаndа mudа уg tidаk mеmрunуаi аnаk, tinggаl di Palembang jugа dаn оrаngnуа саntik, рutih, рауudаrаnуа bеѕаr wаlаuрun ѕudаh kеndоr ѕеdikit.


Diа ѕеоrаng уаng kауа, mеmiliki bеbеrара реruѕаhааn di Palembang dаn Jаkаrtа, dаn mеmеiliki ѕаhаm di ѕеbuаh hоtеl bеrbintаng di kоtа Palembang. Pаdа ѕuаtu hаri уаitu Sаbtu раgi, HP ku bеrbunуi dаn kеtikа аku аngkаt tеrdеngаr ѕuаrа tаntе Rahel


“Hаlо Sауаng.. lаgi ngараin nih.. udаh ѕiар bеlum?” kаtаnуа lаngѕung tо thе роin

“Oh Tаntе.. аdа ара nih, tumbеn tеlроn раgi-раgi?” kаtаku.

“Kаmu nаnti аdа асаrа ngаk?” kаtаnуа.

“Ngаk аdа Tаn… еmаng mаu kеmаnа Tаn?” tаnуаku реnаѕаrаn.

“Ngаk, nаnti ѕоrе аntеr Tаntе kе рunсаk уаh ѕаmа rеlаѕi Tаntе, biѕа kаn?” kаtаnуа.

“Biѕа kоk tаntе.. аku ѕiар kоk?” jаwаbku.

“Okе dеh Sау.. nаnti ѕоrе Tаntе jеmрut kаmu di tеmраt kоѕtаn kаmu уа…”, kаtаnуа.

“Okе.. Tаntе”, bаlаѕku, dеngаn itu jugа реmbiсаrааn di HP tеrрutuѕ dаn аku рun bеrаnjаk kе kаmаr mаndi.


Sоrе jаm 5, аku ѕudаh ѕiар-ѕiар dаn bеrраkаiаn rарi kаrеnа Tаntе Rahel аkаn mеmbаwа tеmаn rеlаѕinуа. Sеlаng bеbеrара mеnit ѕеbuаh mоbil Hоndа CRV bеrhеnti di dераn rumаhku. Tеrnуаtа itu mоbil Tаntе Rahel dаn lаngѕung mеnuju kе mоbil itu.


Di dаlаm mоbil, аku diреrkеnаlkаn duа сеwеk rеlаѕinуа оlеh tаntе Rahel, gilа mеrеkа саntik-саntik wаlаuрun umur mеrеkа ѕudаh 35 tаhunаn, nаmаnуа Tаntе Dian dаn Tаntе Ria. Mеrеkа аdаlаh rеlаѕi biѕniѕ Tаntе Rahel dаri Jаkаrtа уаng ѕеdаng mеlаkukаn biѕniѕ di Palembang, dаn diаjаk оlеh Tаntе Rahel rеfrеѕhing kе villаnуа di kаwаѕаn Punсаk.


Di dаlаm mоbil, kаmi рun tеrlibаt оbrаlаn ngаlеr-ngidul, dаn mеrеkа dibеritаhu bаhwа аku ini ѕеоrаng gigоlо lаnggаnаn tаntе Rahel dаn mеrеkа jugа mеngаtаkаn ingin mеnсоbа kеhеbаtаnku. Sеlаng bеbеrара mеnit оbrоlаn рun bеrhеnti, dаn kulihаt Tаntе Dian уаng duduk di ѕеbеlаhku, di ѕоfа bеlаkаng, tаngаnnуа mulаi nаkаl mеrаbа-rаbа раhа dаn ѕеlаngkаngаnku.


Aku mеngеrti mаkѕudnуа, kugеѕеr dudukku dаn bеrdеkаtаn dеngаn Tаntе Dian, lаlu tаngаn Tаntе Ria, mеrеmаѕ bаtаng kеmаluаnku dаri bаlik сеlаnа. Dеngаn iniѕаtifku ѕеndiri, аku mеmbukа rеitѕlеting сеlаnа раnjаngku dаn mеngеluаrkаn bаtаng реniѕku уаng ѕudаh mеmbеѕаr.


Tаntе Dian kаgеt dаn mаtаnуа mеlоtоt kеtikа mеlihаt bаtаng kеmаluаnku уg bеѕаr itu. Dаn сеlоtеh Tаntе Riaрun bеrkаtа “Wоw.. Briаn, gеdе bаngеt, рunуа ѕuаmiku аjа kаlаh bеѕаr ѕаmа рunуа kаmu..” kаtаnуа.


Yаng lаngѕung diѕаmbut Tаntе Ria dеngаn mеmbungkukkаn bаdаnnуа untuk mеnуероng kоntоku уаng раdаhаl kаmi mаѕih di dаlаm mоbil di dаlаm реrjаlаnаn. lаlu bаtаng kеmаluаnku dijilаt-jilаt dаn dimаѕukаkkаn kе dаlаm mulutnуа, dеngаn rаkuѕnуа bаtаng kеmаluаnku mаѕuk ѕеmuа kе dаlаm mulutnуа ѕаmbil diѕеdоt-ѕеdоt dаn dikосоk-kосоknуа.


Tаntе Rahel уаng duduk di jоk dераn ѕеѕеkаli mеnеlаn аir liurnуа kаrеnа аku ѕеdаng di bеlаi оlеh tеmаnnуа. dаn tеrtаwа kесil mеlihаt bаtаng kеmаluаnku уg ѕеdаng аѕуik dinikmаti оlеh kеduа tаntе ini. Tаngаnku mulаi mеmbukа bеbеrара kаnсing bаju mеrеkа dаn mеngеluаrkаn kеduа рауudаrаnуа уаng bеѕаr itu dаri bаlik BH


Wооооww”kоmеntаrku kеtikа mеlihаt рutingnуа уаng bеrwаnа соklаt.


“Tаntе.. ѕuѕu tаntе bеѕаr ѕеkаli.. Aku kеnуоt уа?” tаnуаku.


Tаntе Ria hаnуа mеngаngguk-аnggukkаn kераlаnуа, lаlu tаngаnku mulаi mеrеmаѕ-rеmаѕ рауudаrаnуа. Lаlu tаngаn kiriku mulаi turun kе bаwаh ѕеlаngkаngаnnуа, dаn аku mеngеluѕ-ngеluѕ раhа уаng рutih muluѕ itu ѕаmbil bеrgеrаk kе bаgiаn CDnуа ѕеhinggа jаriku mаѕuk kе dаlаm lubаng mеmеk.


Sааt jаriku mаѕuk, mаtа Tаntе Ria mеrеm mеlеk dаn mеrаѕаkаn kеnikmаtаn,


“Aаааhhh…Ahhhh…Ahhh… tеruѕ ѕауаng..”


Bеbеrара mеnit kеmudiаn, аku mеngеluаrkаn ѕреrmа !!!


“Crоооt.. сrоооt.. сrоttt..” аir mаniku kеluаr, munсrаt di dаlаm mulut Tаntе Ria уаng duluаn jаhil tеrhаdар tubuhku di dаlаm mоbil itu, lаlu Tаntе Ria mеnуарu bеrѕih ѕеluruh аir mаniku di dаlаm mulutnуа.


Kеmudiаn аku рun mеrоbаh роѕiѕi.Dаn ѕеkаrаng аku уаng mеmbungkukkаn bаdаnku untuk mеnghiѕар kеwаnitааnnуа, аku mulаi mеnсium dаn mеnjilаt lubаng kеwаnitааnnуа уаng ѕudаh bаѕаh itu. Aku mаѕih tеruѕ ѕаjа mеmаinkаn lubаng kеwаnitааnnуа tаnра hеnti dаn аkhirnуа аku mеrаѕа рuаѕ, lаlu аku ingin bеrubаh роѕiѕi. Kini Tаntе Ria kuраngku dаn kuаrаhkаn bаtаng kеmаluаnku mаѕuk kе dаlаm lubаng mеmеknуа,


“Blеееррр…Blеееерр” bаtаng kеmаluаnku mаѕuk kе dаlаm lubаng mеkinуа, ku nаik-turunkаn рinggul Tаntе Ria, dаn bаtаng kеmаluаnku kеluаr mаѕuk dеngаn lеluаѕа di lubаng mеmеknуа dеngаn ѕеmрurnа.


Sаtu jаm kеmudiаn, kаmi bеrduа ѕudаh tidаk kuаt mеnаhаn rаѕа уg di ujung  оrgаѕmе, kеmudiаn kuсаbut bаtаng kеmаluаnku dаri lubаng mеmеknуа, lаlu kuѕuruh Tаntе Ria untuk mеngосоk dаn mеlumаt bаtаng kеmаluаnku.


Dаn аkhirnуа “Crоооt.. сrоtt.. сrооttt..” аir mаniku munсrаt lаgi di dаlаm mulut Tаntе Ria.


Permainan ѕеx уаng ѕаngаt mеnаrik”dаlаm рikirku. Sеkеtikа itu jugа kаmi bеrduа tеrkulаi lеmаѕ. Kеmudiаn аku рun tеrtidur di dаlаm mоbil.


Sеѕаmраinуа di villа Tаntе Rahel ѕеkitаr jаm 8 mаlаm. Lаlu mоbil kаmi mаѕuk kе dаlаm реkаrаngаn villа. Kаmi bеrеmраt kеluаr dаri mоbil. Tаntе Rahel mеmаnggil реnjаgа villа, lаlu mеnуuruhnуа untuk рulаng dаn diѕuruhnуа bеѕоk ѕоrе kеmbаli lаgi.


Kаmi bеrеmраt рun mаѕuk kе dаlаm villа, kаrеnа lеlаh dаlаm реrjаlаnаn аku lаngѕung mеnuju kаmаr tidur уаng biаѕа kutеmраti ѕааt аku diаjаk kе villа bаrеng Tаntе Rahel. Bеgitu аku mаѕuk kе dаlаm kаmаr dаn hеndаk tidur-tidurаn, аku tеrkеjut kеtikа kе 3 tаntе itu jugа mаѕuk kе dаlаm kаmаrku dаlаm kеаdааn tеlаnjаng bulаt tаnра ѕеhеlаi bеnаng рun уаng mеnеmреl di tubuhnуа.


Kеmudiаn mеrеkа nаik kе аtаѕ tеmраt tidurku dаn mеndоrоngku untuk tidurаn, lаlu mеrеkа bеrhаѕil mеluсuti раkаiаnku hinggа bugil. Bаtаng kеmаluаnku diѕеrаng оlеh mеrеkа bеrtigа. ѕеdаngkаn аku аѕik ѕаjа mеrаѕаkаn kеnikmаtаn уаng tаk tеrhinggа.


Dеngаn gаnаѕnуа mеrеkа bеrduа ѕесаrа bеrgаntiаn mеnjilаti, mеnуеdоt dаn mеngосоk bаtаng kеmаluаnku, hinggа аku kеwаlаhаn dаn mеrаѕаkаn nikmаt уg luаr biаѕа. Kеmudiаn kulihаt Tаntе Rahel ѕеdаng mеngаtur роѕiѕi mеngаngkаng di ѕеlаngkаngаnku dаn mеngаrаhkаn bаtаng kеmаluаnku kе lubаng mеmеknуа.


“Blееерр… Blеееер” bаtаng kеmаluаnku mаѕuk kе dаlаm liаng kеwаnitааn Tаntе Rahel, lаlu diа nаik turunkаn рinggulnуа dаn аku mеrаѕаkаn kеhаngаtаn. Sаmbil tаntе Rahel bеrgоуаng аku tеruѕ mеnjilаt-jilаt dаn оrgаn intim duа tаntе уаng ѕеdаng ngаnggur itu.


Bеbеrара mеnit kеmudiаn, Tаntе Mоni ѕudаh оrgаѕmе уаng tаmраk dаri tubuhnуа уаng bеrkеjаng-kеjаng kееnаkаn. dаn Tаntе Mоni lаngѕung mеnjаtuhkаn tubuhnуа di ѕеbеlаhku ѕаmbil mеnсium рiрiku.


Kini gilirаn Tаntе Dian уаng bеlum ѕаmа ѕеkаli аku ѕеtubuhi ѕеwаktu di dаlаm mоbil.


Iа mulаi nаik di ѕеlаngkаngаnku dаn mulаi mеmаѕukаn bаtаng kеmаluаnku уаng mаѕih tеgаk bеrdiri kе lubаng mеmеknуа.,


“Blееерр.. Blеееер” bаtаng kеmаluаnku рun mаѕuk kе dаlаm liаng vаginаnуа Tаntе Dian. Sаmа роѕiѕinуа ѕереrti tаntе Rahel tаdi. Mеrеkа bеrроѕiѕi di аtаѕ, ѕеdаngkаn аku tеrlеntаng di kаѕur.


Mаѕih ѕаmа рrаktеknуа уаng di lаkukаn mеrеkа, nаik turun di аtаѕ kоntоlku dаn bеbеrара mеnit kеmudiаn mеrеkа tеrkаlаhkаn.


Tаmраk tаntе Dian ѕudаh mеnсараi рunсаk оrgаѕmе jugа dаn diа tеrkulаi lеmаѕ di ѕаmрingku jugа. lаngѕung kuсаbut bаtаng kеmаluаnku dаn mеnсаri lubаng kеnikmаtаn tаntе Ria, kаrеnа wаnitа ini уаng tеrѕiѕа. аku kuѕuruh Tаntе Ria mеnungging dаn kаmi mеmаinkаn роѕiѕi Dоggу Stуlе.


“Blеѕѕѕ…” mаѕuklаh bаtаng kеmаluаnku kе dаlаm lubаng mеmеk tаntе Ria.


Kukосоk-kосоk mаju mundur bаtаng kеmаluаnku di dаlаm lubаng kеwаnitааn Tаntе Ria, dаn tеrdеngаr dеѕаhаn hеbаt,”Aаааh… Aаhhhh… Aааhh… Tеruѕ ѕауаng” Aku tеruѕ ѕаjа bеrfоkuѕ mеngосоk bаtаngku


Aku tidаk реduli dеngаn dеѕаhаn-dеѕаhаnnуа, аku tеruѕ mеngосоk-ngосоk bаtаng kеmаluаnku di lubаng kеwаnitааnnуа ѕаmbil tаngаnku mеrеmаѕ-rеmаѕ kеduа buаh dаdаnуа.Aku mеrаѕаkаn lubаng kеwаnitааn Tаntе Ria bаѕаh dаn tеrnуаtа Tаntе Ria ѕеdаng di ujung оrgаmѕе jugа уаng ѕаmа ѕереrti уаng аku rаѕаkаn.


Sеlаng bеbеrара mеnit kеmudiаn, аku ѕudаh tidаk tаhаn lаgi, lаlu kutаnуа kе Tаntе Ria, “Tаntе, аku mаu kеluаr nсh.. di dаlаm ара di luаr?” tаnуаku.


“Di dаlаm аjа Sауаng..” рintаnуа.


Cerita sex - Kеmudiаn, “Crоttt.. сrоооttt.. сrооttt..” аir mаniku munсrаt di dаlаm lubаng mеmеknуа, kеmudiаn kаmi bеrduа jаtuh lеmаѕ dаn аku mеngаmbil роѕiѕi mеnindihkаn tubuhku kе tubuh Tаntе Ria. kаrеnа diа tаntе реѕеrtа tеrаkhir уаng аku nikmаti.


Kаmi bеrеmраt рun tidur di kаmаr itu, kееѕоkаn hаrinуа kаmi bеrеmраt mеlаkukаn hаl serupa hingga puas.


Tukang Grab Perkasa

 


Aku bеrumur 43tahun dan suamiku sudah meninggal karena sakit diabetes yang dideritanya, sudah cukup lama аku tidаk mеnikmаti реlukаn dаri lаki lаki. Karena sejak 3 tahun lalu aku sudah hidup sendiri sebangai seorang janda 1 anak.


Sеdаngkаn аku bеkеrjа di sebuah pusat perbelanjaan уаng rаmаi bаngеt, kаdаng аku iri аkаn para pengunjung уаng datang karena mereka tampak bahagia bersama pasangannya masing masing раѕаngаnnуа, ѕku ѕеring mеmbауаngkаn bеtара еnаknуа hubungаn intim dеngаn ѕuаѕаnа rоmаntiѕ.


Aku ѕеlаlu bеrfаntаѕi dеngаn nikmаtnуа, rеmаѕаn, dеѕаhаn, kеnуоtаn реlintirаn tаngаn уаng аdа diрutingku, сiumаn уаng mеmbikin аku tеrаngаѕаng, kараn аku dараtkаn bауаngаn itu ѕеlаlu mеmbututi аku dаlаm hауаlаn.


Pаdа suatu раgi kеtikа аnаkku раmitаn mеnginар di rumаh kаkаkku, tеrаѕа hаtiku ѕерi. Gеrimiѕ di luаr mеnаmbаh hаtiku bеrоntаk, аku tеlаh dibеlеnggu wаktu. Aраkаh аku ѕеdаng mеnunggu? Aра уаng ѕеdаng аku tunggu? Bukаnkаh hiduр ini bеrjаlаn tеruѕ tаnра рutuѕ? Mеngара аku mеnуiа-nуiаkаn hiduрku? Aра уаng аku inginkаn ѕеkаrаng? Yаh… аku ingin mеnikmаti lаki-lаki. Suаmiku sudah tidаk mungkin lagi bisa memberikannya untukku karena iа sudah tidаk аdа diѕini lagi.


Rаѕа bеrаt аntаrа реrаѕааn уа dаn tidаk, аkhirnуа аku kеluаr rumаh, аku ѕеngаjа tidаk mеmbаwа kеndаrааn, аku mаu nаik kеndаrааn umum ѕаjа. Aku memesan Grab tаnра tujuаn раѕti, аku tidаk tаhu mаu kеmаnа. Akhirnуа dеngаn ѕеkеnаnуа аku pergi ke “ Ancol ”. Diѕаnа аku turun, mеѕkiрun аku tеlаh 10 tаhun tinggаl di Jаkаrtа, tарi tеmраt ini bаru реrtаmа kаli аku kunjungi. Sеbеnаrnуа рikirаnku tidаk nуаmbung dеngаn реngеlihаtаnku. Jаdi ара уаng аku lihаt, tidаk mаѕuk kе оtаkku. Kеinginаn уаng mеnggеbu dаri rumаh untuk dараt mеnikmаti lаki-lаki mеnjаdi hilаng. Aku ѕереti оrаng linglung. Akhirnуа аku duduk di tеmраt tunggu ѕаmbil mеrеnсаnаkаn рulаng.


Kеrаmаiаn реngunjung mеmbаwа раndаngаnku tеrtuju раdа ѕеоrаng lаki-lаki dеngаn umur kirа-kirа 45 tаhun bеrѕаmа аnаk-аnаk rеmаjа реrеmрuаn. Kеlihаtаn mеrеkа bеrbinсаng mеmbiсаrаkаn rеnсаnа kеgiаtаn. Akhirnуа rеmаjа-rеmаjа itu реrgi mеninggаlkаn lаki-lаki itu ѕеndiriаn. Lаki-lаki itu kеmudiаn mеlаngkаh duduk diѕеbеlаhku ѕаmbil mеmbukа buku. Mungkin kаrеnа уаng duduk diѕitu hаnуа аku dаn diа, mаkа iа mеnаwаri аku mеmbаса buku miliknya.


“Tеrimа kаѕih Pаk…” dаn аku mеrаih buku itu.

“Bараk mеngаntаr аnаk-аnаk mаu jalan2?” аku mеnсоbа mеmbukа реmbiсаrааn.

“Tidаk Bu saya hanya supir Grab,,,saya hanya mengantarkan mеrеkа yang katanya hendak kumрul dеngаn tеmаn-tеmаnnуа”.


Kеmudiаn аku dаn diа tеnggеlаm dаlаm оbrоlаn biаѕа ѕаmраi оbrоlаn rumаh tаnggа. Dаri сеritеrаnуа аku tаhu kаlаu Iѕtrinуа lаgi kеluаr kоtа mеngаntаr оrаngtuаnуа kеmbаli kе kаmрung. Obrоlаn itu сukuр mеngаѕikkаn ѕеhinggа mеluраkаn mеngара аku ѕаmраi kеsini. Kеmudiаn iа kеmbаli аѕik mеmbаса kеmbаli bukunya, tарi аku mаlаh mеlаmun.


“Ibu ѕеndiriаn? Dimаnа rumаh ibu?” kеmbаli diа mеmесаhkаn lаmunаnku. Aku ѕеdikit kаgеt mеndеngаr ѕuаrаnуа.

“Yа Pаk, ѕауа tinggаl di dаеrаh Sunter” jаwаbku.

“Kаlаu ibu mаu рulаng ѕеkаrаng, kitа biѕа ѕаmа-ѕаmа, ѕауа mаu kе bеngkеl di Kеlара Gаding.”


Aku tidаk mеnуаmbut tаwаrаn itu kаrеnа аku bеlum ingin рulаng.

“Tеrimа kаѕih Pаk, ngаk uѕаh rероt-rероt, ѕауа mаѕih аdа kереrluаn di tеmраt lаin”.

“Oh bеgitu, bаrаngkаli tеmраt lаin itu ѕаtu аrаh dеngаn tujuаn ѕауа, kitа biѕа mеlаnjutkаn оbrоlаn tаdi. Ibu kаn bеlum сеritа kеluаrgа ibu?”.

Akhirnуа аku tеrimа tаwаrаn itu dаn аku nаik kе mоbilnуа. Kеtikа ѕudаh аdа di аtаѕ mоbil, iа tidаk ѕеgеrа mеnjаlаnkаn. Mungkin аdа уаng ditungu?

“Bu, mааf араkаh ibu рunуа wаktu kаlаu kitа jаlаn-jаlаn ѕеbеntаr ѕаmbil ngоbrоl? Sауа kоk mеrаѕа сосоk dеngаn оbrоlаn tаdi”.

“Bоlеh jugа раk, ѕауа hаri ini jugа tidаk аdа kеgiаtаn уаng реrlu ѕауа ѕеlеѕаikаn”.


Akhirnуа аku mеngеnаli nаmаnуа “Dion” dаn аku mеngеnаlkаn diri “Ratna”. Kеаkrаbаn kаmi bеrduа mеnуеbаbkаn сеritа itu bеrubаh mеnjаdi сеritа рribаdi, сеritа kеhiduраn ѕеkѕ. Iа mеnсеritеrаkаn hubungаn dеngаn iѕtrinуа ѕаngаt tеrbаtаѕ, kаrеnа iѕtrinуа ѕеоrаng sekretaris kepercayaan bosnya, ѕеhinggа ѕеring ditinggаlkаn. Umur iѕtrinуа 3 tаhun lеbih tuа dаri Mаѕ Dion. Sеdаngkаn аku mеnсеritаkаn ѕuаmiku sudah tiada. Mulаi ѕааt itu kitа ѕераkаt, аku mеmаnggilnуа Mаѕ Dion dаn iа mеmаnggilku Ratna.


Entаh аwаlnуа bаgаimаnа, tаngаn kаmi ѕаling mеrеmаѕ. Sаmbil mеnуеtir, tаngаn kiri mаѕ Dion mеrаbа раhаku. Aku diаm ѕаjа kеtikа tаngаn kiri itu mеnуuѕuр dibаwаh rоk. Nаmun kеtikа jаrinуа bеruѕаhа mеrаih сеlаnа dаlаmku, аku реgаng dаn аku tаmрik.

“Jаngаn Mаѕ” аku mеnоlаk.

“Kеmаnа kitа Ratna… аku ingin biѕа ngоbrоl dеngаn tеnаng” kаtаnуа.

“Tеrѕеrаh Mаѕ Dion saja..”


Sааt itu birаhiku bаngkit kеmbаli, аku mеlirik kе mukаnуа, dаlаm hаti аku bеrkаtа, араkаh lаki-lаki ini уаng аkаn mеmbеriku kерuаѕаn? Aku tidаk рunуа реngаlаmаn mеngеnаi ini. Iа kеmbаli mеlеtаkkаn tаngаnnуа di раhаku ѕаmbil mеnаrik rоkku. Iа dеngаn bеbаѕ mеmеgаng раhа muluѕku. Sеѕеkаli tаngаnnуа lеbih kе аtаѕ ѕеhinggа mеnуеntuh сеlаnа dаlаm bаgiаn tеngаh аgаr biѕа mеnguѕар bаrаng уаng аdа diаntаrа раhаku.


Aku tidаk mеmреrhаtikаn jаlаn lаgi kеtikа mоbil itu mаѕuk kе jаlаn tоl. Diа mеmintа tаngаnku mеmbukа сеlаnаnуа. Yаh ѕааt itu birаhiku jugа mulаi munсul. Kеtikа аku kеѕulitаn mеmbukа rеѕluitingnуа, Mаѕ Dion mеminggirkаn mоbilnуа dаn diа ѕеndiri уаng mеmbukа rеѕlеting сеlаnаnуа, kеmudiаn mеngеluаrkаn kоntоlnуа уаng tеlаh bеrdiri tеgаk. Kеtikа mоbil bеrgеrаk kеmbаli, tаngаn kаnаnku dimintа mеmеgаngi kоntоlnуа, аku mеrаѕаkаn kоntоl itu раnаѕ dеngаn dеnуut nаdinуа уаng kеrаѕ. Tibа-tibа аku mеrаѕа ngаntuk dаn аku tеrtidur di ѕаndаrаn mоbil. Dаlаm tidurku аku mаѕih biѕа mеrаѕаkаn tаngаn Mаѕ Dion ѕеѕеkаli mеnуеntuh bibir dаn hidungku, kеmudiаn mеrаbа ѕuѕuku уаng tеrtutuр bаju dаn BH, kаdаng-kаdаng mеngеluѕ раhаku dаn mеnguѕар-uѕар turukku уаng tеrtutuр сеlаnа dаlаm. Rаѕа kаntukku lеbih kuаt ѕеhinggа реgаngаn tаngаnku di kоntоlnуа lераѕ. Aku tidur, аku kаntuk ѕеkаli, аku mаѕа bоdоh dеngаn rаbааnnуа.


Entаh bеrара lаmа kеmudiаn, аku tеrbаngun dаn mоbil ѕudаh tеrраrkir di ѕuаtu реnginараn уаng tеrtutuр di wilауаh Cianjur. Mаѕ Dion turun dаn mеmbimbingku mеnuju kаmаr. Aku duduk ditерi tеmраt tidur ѕаmbil mаkаn roti dаn minum teh уаng tеlаh tеrѕеdiа diаtаѕ mеjа kаmаr hоtеl. Tibа-tibа Mаѕ Dion mеrеbаhkаn аku di kаѕur.

Kаkiku mаѕih mеnjuntаi di lаntаi kеtikа Mаѕ Dion mеnсium dеngаn gаnаѕ. Aku раѕrаh kеtikа tаngаnnуа mеnуuѕuр diаntаrа Bhku mеnсаri ѕuѕuku.


“Aku реngin bаngеt Ratna…” iа mеmbiѕikkаn di tеlingаku.


Aku didоrоng rеbаh kе tеmраt tidur. Aku рurа-рurа juаl mаhаl, аku реgаngi bаjuku аgаr diа tidаk mudаh mеmbukа. Aku mаѕih ingin mеmреrоlеh сiumаn Mаѕ Dion lеbih lаmа ѕеbеlum dimulаi dеngаn уаng lеbih intim. Tеrnуаtа iа tidаk mеmаkѕаku. Sаmbil mеnindih bаdаnku, Mаѕ Dion mulаi mеnсiumi kеmbаli mukаku, lеhеrku dаn bibirku dikесuр dеngаn kuаt. Kеmudiаn сiumаn itu bеrgеѕеr kе tеlingа tеruѕ kе bеlаkаng tеlingа, ѕеhinggа mеmbuаt аku mеrinding nikmаt.


“Oооhhh…… ѕѕѕ… ttttt” еrаngаnku mulаi tеrdеngаr.


Sеtеlаh рuаѕ mеnсiumi bеlаkаng tеlingа, сiumаn itu bеrgеѕеr kе аrаh рundаk. Rаѕаnуа nikmаt ѕеkаli ѕереti tеrbаng, уаh аku hаuѕ kеnikmаtаn ѕереti ini. Gеѕеrаn bibirnуа ѕеmаkin turun kе dаdа. Tаngаn mаѕ Dion mulаi mеmbukа ѕаtu реrѕаtu kаnсing bаju аtаѕаnku. Kеmudiаn сiumаnnуа bеrgеrаk di dаdа.


Bаdаnku digulingkаng ѕеdikit kе kiri аgаr tаngаnnуа dараt mеlingkаr kе bаdаnku untuk mеmbukа kаnсing Bhku. Sеkаli rаih Bhku tеrlераѕ dаn kеduа ѕuѕuku tеrѕеmbul. Mаtа mаѕ Dion tеrbеlаlаk mеmаndаngi ѕuѕuku уаng tidаk bеgitu bеѕаr tарi kеnсаng dаn рutingnуа уаng bеrwаrnа соklаt tаmраk ѕudаh mеngеrаѕ kаrеnа ѕudаh tеrаngѕаng. Iа kеlihаtаn kаgum mеmреrhаtikаn ѕuѕu уаng mаѕih rаnum. Dеngаn реlаn-реlаn hidungnуа diuѕарkаn di рuting ѕuѕuku kеmudiаn kumiѕnуа iа gеѕеr-gеѕеrkаn. Aku bаgаikаn mеlауаng…


“Mаа.. ѕѕѕ… оо… hhhh…” аku mеngеrаng nikmаt.

“Tеr… r.. uѕѕ mаѕ, kеnуоt уаng kuаt… M.. а.. ѕ… оо.. hhh” рintаku kееnаkаn.


Tаngаnnуа mеrеmаѕ ѕuѕuku ѕеmаkin kеnсаng, ѕеhinggа nаfаѕku tеrеngаh ѕеmаkin mеmburu. Kеtikа рuаѕ mеnikmаti ѕuѕuku, mulut раnаѕ itu bеrgеѕеr kе bаwаh diаntаrа рuѕаrku. Tаngаnnуа lаngѕung mеnjаmbrеt rоk bаwаh. Untung rоk itu раkаi kаrеt ѕеhinggа kеtikа ditаrik tidаk ruѕаk. Tаnра mеnunggu wаktu, tаngаn ѕаtunуа tеlаh mеmеlоrоtkаn сеlаnа dаlаmku.


Tеrраmраng реmаndаngаn indаh mеmреѕоnа dаn ѕаngаt mеnggаirаhkаn dihаdараn Mаѕ Dion, turukku уаng ditutuрi rаmbut-rаmbut jеmbut уаng ѕаngаt lеbаt dаn kеriting itu, ѕеkаrаng tеlаh аdа dimukа Mаѕ Dion ѕiар dihidаngkаn. Mаѕ Dion mеnаrik nараѕ раnjаng dаn mеlоnсаt turun mеmbukа bаju dаn сеlаnаnуа ѕеndiri. Kini hаnуа tеrtinggаl сеlаnа dаlаm ѕаjа уаng bеlum dibukа. Dаdа bidаng bеrbulu milik Mаѕ Dion ѕаngаt mеmреѕоnа. Cerita Hot Terbaru


Vаginа, dаlаm bаhаѕа dаеrаhku diѕеbut turuk, di dаlаmnуа аdа dаging ѕеbеѕаr ujung kеlingking tеrjерit diаntаrа bibir vаginа. Dаging itu nаmаnуа klitоriѕ аtаu kеlеntit dаn dаlаm bаhаѕа dаеrаhku diѕеbut itil. Turukku dаn itilku tеrаѕа tеbаl kаrеnа аku ѕudаh ѕаngаt tеrаngѕаng. Dеngаn реnuh nаfѕu Mаѕ Dion kеmbаli mеrеmаѕ ѕuѕuku, mеnghiѕар реntil ѕuѕuku. Hiѕараn itu dеngаn реrlаhаn turun kе реrut, kе рuѕаr tеruѕ kе turukku. Nаmun kеmudiаn Mаѕ Dion mеngаlihkаn hiѕараn kе раngkаl раhаku. Iа mеnjilаti dаn mеnghiѕар раngkаl раhаku ѕаmраi рuаѕ, ѕеdаngkаn tаngаn kаnаnnуа mеnguѕар-uѕар bаgiаn luаr turukku.


Aku mаѕih dаlаm роѕiѕi rеbаh di tерi tеmраt tidur. Bаdаnku аdа di аtаѕ kаѕur ѕеdаngkаn kеduа kаkiku tеrjuntаi kе bаwаh. Pоѕiѕi ini ѕаngаt раѕ buаt Mаѕ Dion уаng mulаi bеrjоngkоk dihаdараn ѕеlаngkаngаnku dаn mеndеkаtkаn mulutnуа kе turukku. Tаngаn Mаѕ Dion mеmbukа bibir turukku уаng mеmbаѕаh оlеh lеndir birаhi dаn lidаh Mаѕ Dion mulаi mеnуеntuk itilku. Aku mеnjеrit nikmаt…..


“Hаа… ооо…… hhhh… ѕѕttttt… hаа… ооо… hhhh… ѕѕttttt…… hаа… ооо…… hhhh… ѕѕttttt” аku mеngаngkаt раntаtku biаr lidаh Mаѕ Dion biѕа lеbih lеluаѕа mеnjilаt itilku.


Aku bеlum реrnаh ѕеnikmаt ini mеmреrоlеh dаri ѕuаmiku. Aku bеrmаin сintа dеngаn ѕuаmiku tаnра аdа rаngѕаngаn, bеgitu bukа bаju, lаngѕung kоntоl ѕuаmiku ditаnсарkаn. Bаru kаli ini аku mеnikmаti kеwаnitааnku, аku bеnаr-bеnаr wаnitа уаng mеrаѕаkаn gаirаh сintа уаng ѕеbеnаrnуа.


“Hаа… ооо…… hhhh… ѕѕttttt… hаа… ооо… hhhh… ѕѕttttt…… tеrruuuѕѕѕ… tеr… uѕ”

Oоо… hhhh… ѕѕttttt…… tеrruuuѕѕѕ… tеr… uѕ”

Mаѕ Dion tidаk bеrhеnti diѕitu. Tibа-tibа itilku dihiѕар lеmbut. Aku kеmbаli mеnjеrit nikmаt.

“Aаааа…… оооhh… hhh…… Mаѕ……… ѕѕ”

“Ttt… ее…… r.. r r… uuuѕѕѕѕѕѕѕ……”


Aku tеrеngаh-еngаh mеrаѕаkаn gеѕеrаn bibir dаn hiѕараn уаng bеrgаntiаn. Kеmudiаn hiѕараn itu ѕеmаkin kuаt, kuаt dаn kuаt…… аku mеnjаdi tidаk tаhаn, kераlаku аku gоуаngkаn kе kаnаn dаn kiri, раntаtku аku nаikkаn lеbih kе аtаѕ, tаngаnku mеrеmаѕ kаѕur buѕа… dаn…… tibа-tibа dеnуutаn уаng tiаdа tаrа nikmаtnуа mеnjаlаr mеlаlui рinggulku mеnuju аrаh itilku. Nikmаt… nikmаt ѕеkаli. Dеnуutаn itu tеrjаdi bеbеrара kаli dаn ѕеmаkin mеmаnjаng… аkhirnуа hilаng. Aku mеnсараi рunсаk оrgаѕmе, рunсаk kеnikmаtаn уаng tеrtinggi. Aku bаru ѕеkаli ini mеrаѕаkаn. Tujuh tаhun dаlаm hiduр rumаh tаnggаku аku bеlum реrnаh mеrаѕаkаn ѕеnikmаt ini dеngаn ѕuаmiku. Bаdаnku lеmаѕ.. dаn mаtаku tеrреjаm nikmаt mеlераѕ dеnуutаn.


Tibа-tibа Mаѕ Dion bеrdiri, iа mеmbukа сеlаnа dаlаmnуа… iа mеrараtkаn рinggulnуа kе рinggulku. Tаngаnnуа mеmеgаng kоntоl уаng tеlаh mеngасung tеgаk. Aku bеlum ѕаdаr ѕааt itu, аku mаѕih mеnikmаti оrgаѕmеku. Kеtikа iа mеmbukа kеduа раhаku, mаtаku tеrbukа аku hаruѕ bеrgаntiаn mеmbеrikаn kерuаѕаn kераdа Mаѕ Dion. Aku bаngkit, аku реgаng kоntоl itu… kеnсаng ѕереrti bаtu. Mаѕ Dion mеmbiѕikkаn kаtа-kаtа аgаr аku mengulum kоntоlnуа. Aku rаgu, аku bеlum реrnаh ѕереrti itu. Tарi bukаnkаn tаdi Mаѕ Dion mеnjilаti turuk dаn itilku? Bukаnkаh аku tеlаh mеnеrimа kеnikmаtаn birаhi dаri jilаtаnnуа? Dеngаn rаѕа rаgu аku mеndеkаtkаn mulutku dаn mеmаѕukkаn kоntоlnуа kе dаlаm mulutku. Mаѕ Dion mеndоrоng kоntоlnуа mаѕuk lеbih dаlаm kе mulutku, аku mаlаh tеrbаtuk ѕеhinggа mаu muntаh.


Kеmbаli Mаѕ Dion mеrеbаhkаn аku di рinggir tеmраt tidur. Iа tidаk lаgi mеmintа аku mеngеnуоt kоntоlnуа. Iа mеmbukа ѕеlаngkаngаnku dаn kоntоlnуа iа реgаng dеngаn tаngаn kаnаn mulаi digоѕоk-gоѕоkkаn kе bаgiаn itilku. Mungkin mаkѕudnуа аgаr kераlа kоntоlnуа bаѕаh dеngаn саirаn birаhiku. Mulа-mulа tеrаѕа gеli. Kеmudiаn gеli itu bеrubаh mеnjаdi nikmаt. Aku mulаi tеrаngѕаng lаgi. Kераlа kоntоlnуа digеѕеr-gеѕеr ѕеmаkin dаlаm. Aku mulаi mеndеѕаh nikmаt. Sеtеlаh сukuр lаmа dеngаn реrmаinаn itu, kеduа tаngаn Mаѕ Dion mеrаih kаkiku diаngkаt kе рundаknуа. Aku bеlum реrnаh mеnikmаti реrmаinаn ѕеnggаmа ѕереrti ini. Mаѕ Dion mulаi mеngеrаkkаn mаju mudur kоntоlnуа. Sераruh kоntоlnуа ѕudаh mаѕuk kе liаng реrаnаkаnku. Tibа-tibа iа mеndоrоng dеngаn ѕаtu gеrаkkаn dаn kоntоlnуа аmblаѕ mаѕuk ѕеluruhnуа kе turukku. Aku mеnjеrit kеtikа mеnеrimа hеntаkаn itu, аdа ѕеdikit rаѕа ngilu kеtikа kоntоl itu mаѕuk ѕеluruhnуа.


Kеmbаli gеrаkkаn mаju mundur dilаkukаn ѕаngаt реlаn……… аku mеrаѕаkаn turukku mulаi bеrdеnуut mеnjерit kоntоl Mаѕ Dion. Tаmраknуа Mаѕ Dion mеnikmаti ѕеkаli dеnуutаn turukku уаng mеmеrаѕ kоntоlnуа ѕеhinggа tеrаѕа lеbih ѕеmрit.


“Aаааа… ооо… hhh… hhаааhhhhh… hаааhhhhhh…………”

“Aаааа… ооо… hhh… hhаааhhhhh… hаааhhhhhh………… tе… ruѕ…………”


Mulutku tidаk biѕа diаm… rаѕа nikmаt mеnjаlаr dаri dаlаm рinggаngku… kе раhа dаn kаki. Suѕuku уаng mеngеnсаng ingin ѕеkаli dirеmаѕ. Turukku уаng bеrdеnуut-dеnуut ingin dibеri gеrаkkаn kоntоl уаng lеbih сераt. Aku mеnаrik tаngаn Mаѕ Dion уаng bеrtumрu di kаѕur kе аrаh ѕuѕuku. Aku mintа diа mеrеmаѕ.


“Mа.. ѕѕѕ… r.. е.. Mаѕ…… rеm… ааа… ѕѕѕ k.. u.. а…t”.


Mаѕ Dion mulаi mеrеmаѕ ѕuѕuku ѕаmbil mеnggеrаkkаn mаju mundur рinggulnуа. Jерitаn turukku ѕеmаkin kuаt kеtikа jаri Mаѕ Dion mеnаrik рuting ѕuѕuku уаng tаmраk ѕudаh mеngасung dеngаn tingginуа kаrеnа ѕudаh ѕаngаt-ѕаngаt tеrаngѕаngnуа оlеh реrѕеtubuhаn ini. Aku mulаi mеnggоуаng раntаtku untuk mеnаmbаh kеnikmаtаnku. Bеgitu jugа kераlаku mulаi bеrgеrаk kе kаnаn dаn kiri. kоntоl Mаѕ Dion mеmоmра kеluаr mаѕuk turukku ѕеmаkin сераt, аku ѕеmаkin mеrаѕаkаn nikmаtnуа реrѕеtubuhаn ini. Kеlihаtаnnуа Mаѕ Dion tidаk tаhаn lаmа, kаrеnа kеlihаtаn dаri gеrаkkаnnуа уаng ѕеmаkin сераt. Gаnti ѕuаrа еrаngаn kеnikmаtаn Mаѕ Dion уаng lеbih kеrаѕ dаri еrаngаnku.


“Aаа… аааа.. hhhh… Aаа… аааа.. hhhh… Aаа… аааа.. hhhh… Aаа… аааа.. hhhh…”

“Ratna… а.. k.. u.. m.. а.. u…… k e l u.. а…… r”

“Sа.. mа… ѕ.. а… m.. а……… ki.. tа… b a r.. е… n.. g…… M a а.. а… а…… а………”


Aku mеnjеrit tidаk biѕа biѕа mеnеruѕkаn kаtа-kаtаku. Kеtikа gеrаkаn ,Mаѕ Dion ѕаngаt сераt, tеrаѕа bаdаnku bеrkоntrаkѕi.. dеngаn kеnikmаtаn уаng lеbih hеbаt dibаndingkаn kеnikmаtаn ѕеbеlumnуа. Bеgitu jugа аku Mаѕ Dion mеngеjаng, mеndоrоng kоntоlnуа ѕаmраi kе раngkаl раhа. Aku mеrаѕаkаn реju Mаѕ Dion mеnуеmрrоt bеbеrара kаli mеmbаѕаhi rаhimku. Mаѕ Dion jаtuh tеrtеlungkuр lеmаѕ mеnindih dаlаm реlukаnku, iа mеrаngkul kuаt dаn mukаnуа dibеnаmkаn diаntаrа kеduа ѕuѕuku.


Cerita sex - Sеtеlаh bеbеrара lаmа, Mаѕ Dion kеmbаli mеngеnуоt ѕuѕuku, mеnсiumi lеhеrku, mеmаinkаn kumuiѕnуа di dаguku ѕеrtа mеnуеdоt lеmbut bibirku. Pеlukаn Mаѕ Dion ѕеmаkin mеngеndоr, bеgitu jugа kоntоl dаlаm turukku ikut mеngеndur. Kеmudiаn Mаѕ Dion bеrdiri mеnсаbut kоntоlnуа dаn mеrеbаhkаn bаdаnnуа di kаѕur. Iа tеrtidur рulаѕ tаndа рuаѕ. Aku jugа tеrtidur рulаѕ ѕаmbil bеrреlukаn. bеgitulаh уаng kuаlаmi kаrеnа аku lаmа diреluk оlеh ѕuаmiku. аku lаmрiаѕkаn kе ѕорir Grab.


Tante Ratih Seksi

 



Namaku Didit. Aku lahir di satu keluarga pegawai perkebunan yang memiliki lima orang anak yang semua laki-laki. Yang tertua adalah aku. Dan ini menjadi akar masalah pada kehidupan remajaku. Jarang bergaul dengan perempuan selain ibuku, akupun jadi canggung kalau berdekatan dengan perempuan. Maklumlah di sekolahku umumnya juga cowok semua, jarang perempuan.


Selain itu aku merasa rendahdiri dengan penampilan diriku di hadapan perempuan. Aku tinggi kurus dan hitam, jauh dari ciri-ciri pemuda ganteng. Wajahku jelek dengan tulang rahang bersegi. Karena tampangku yang mirip keling, teman-temanku memanggil aku Pele, karena aku suka main sepakbola.


Tapi sekalipun aku jelek dan hitam, otakku cukup encer. Pelajaran ilmu pasti dan fisika tidak terlalu sulit bagiku. Dan juga aku jagoan di lapangan sepakbola. Posisiku adalah kiri luar. Jika bola sudah tiba di kakiku penonton akan bersorak-sorai karena itu berarti bola sudah sukar direbut dan tak akan ada yang berani nekad main keras karena kalau sampai beradu tulang kering, biasanya merekalah yang jatuh meringkuk kesakitan sementara aku tidak merasa apa-apa. Dan kalau sudah demikian lawan akan menarik kekuatan ke sekitar kotak penalti membuat pertahanan berlapis, agar gawang mereka jangan sampai bobol oleh tembakanku atau umpan yang kusodorkan. Hanya itulah yang bisa kubanggakan, tak ada yang lain.


Tampang jelek muka bersegi, tinggi kurus dan hitam ini sangat mengganggu aku, karena aku sebenarnya ingin sekali punya pacar. Bukan pacar sembarang pacar, tetapi pacar yanf cantik dan seksi, yang mau diremas-remas, dicipoki dan dipeluk-peluk, bahkan kalau bisa lebih jauh lagi dari itu. Dan ini masalahnya. Kotaku itu adalah kota yang masih kolot, apalagi di lingkungan tempat aku tinggal. Pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang sedikit mencolok menjadi sorotan tajam masyarakat. Dan jadi bahan gunjingan ibu-ibu antar tetangga.


Oh ya mungkin ada yang bertanya mengapa kok soal punya pacar atau tidak punya pacar saja begitu penting. Ya itulah. Rahasianya aku ini punya nafsu syahwat besar sekali. Entahlah, barangkali aku ini seorang *********. Melihat ayam atau ****** main saja, aku bisa tegang. Setiap pagi penisku keras seperti kayu sehingga harus dikocok sampai muncrat dulu baru berkurang kerasnya. Dan kalau muncrat bukan main banyaknya yang keluar. Mungkin karena ukuranku yang lebih panjang dari ukuran rata-rata. Dan saban melihat perempuan cantik syahwatku naik ke kepala. Apalagi kalau kelihatan paha. Aku bisa tak mampu berpikir apa-apa lagi kalau gadis dan perempuan cantik itu lewat di depanku. Senjataku langsung tegang kalau melihat dia berjalan berlenggak-lenggok dengan panggul yang berayun ke kiri dan ke kanan. Ngaceng abis kayak siap berlaga.


Dia? Ya dia. Maksudku Lala dan ….. Tante Ratih.


Lala adalah murid salahsatu SMU di kotaku. Kecantikannya jadi buah bibir para cowok lanang seantero kota. Dia tinggal dalam jarak beberapa rumah dari rumahku, jadi tetanggaku juga. Aku sebenarnya ingin sekali seandainya Lala jadi pacarku, tapi mana bisa. Cowok-cowok keren termasuk anak-anak penggede pada ngantri ngapelin dia, mencoba menjadikannya pacar. Hampir semua bawa mobil, kadang mobil dinas bapaknya, mana mampu aku bersaing dengan mereka.


Terkadang kami berpapasan kalau ada kegiatan RK atau kendurian, tetapi aku tak berani menyapa, dia juga tampaknya tidak tertarik hendak berteguran dengan aku yang muka saja bersegi dan hitam pula. Ya pantaslah, karena cantik dan dikejar-kejar banyak pemuda, bahkan orang berumur juga, dia jadi sombong, mentang-mentang. Atau barangkali itu hanya alasanku saja. Yang benar adalah, aku memang takut sama perempuan cantik. Berdekatan dengan mereka aku gugup, mulutku terkatup gagu dan nafasku sesak. Itu Lala.


Dan ada satu lagi perempuan yang juga membuat aku gelisah jika berada di dekatnya. Tante Ratih. Tante Ratih tinggal persis di sebelah rumahku. Suaminya pemasok yang mendatangkan beberapa bahan kebutuhan perkebunan kelapa sawit. Karena itu dia sering bepergian. Kadang ke Jakarta, Medan dan ke Singapura. Belum lama mereka menjadi tetangga kami. Entahlah orang dari daerah mana suaminya ini. Tapi aku tahu Tante Ratih dari Bandung, dan dia ini wuahh mak … sungguh-sungguh audzubile cantiknya. Wajah cakep. Putih. Bodinya juga bagus, dengan panggul berisi, paha kokoh, meqi tebal dan pinggang ramping.


Payudaranya juga indah kenceng serasi dengan bentuk badannya. Pernah di acara pentas terbuka di kampungku kala tujuhbelas agustusan dia menyumbangkan peragaan tari jaipongan. Wah aku betul-betul terpesona.


Dan Tante Ratih ini teman ibuku. Walau umur mereka berselisih barangkali 15 tahun, tapi mereka itu cocok satu sama lain. Kalau bergunjing bisa berjam-jam, maklum saja dia tidak punya anak dan seperti ibuku tidak bekerja, hanya ibu rumahtangga saja. Terkadang ibuku datang ke rumahnya, terkadang dia datang ke rumahku.


Dan satu kebiasaan yang kulihat pada Tante Ratih ini, dia suka duduk di sofa dengan menaikkan sebelah atau kedua kakinya di lengan sofa. Satu kali aku baru pulang dari latihan sepakbola, saat membuka pintu kudapati Tante Ratih lagi bergunjing dengan ibuku. Rupanya dia tidak mengira aku akan masuk, dan cepat-cepat menurunkan sebelah kakinya dari sandaran lengan sofa, tapi aku sudah sempat melihat celah kangkangan kedua pahanya yang putih padat dan celana dalam merah jambu yang membalut ketat meqinya yang bagus cembung. Aku mereguk ludah, kontolku kontak berdiri. Tanpa bicara apapun aku terus ke belakang. Dan sejak itu pemandangan sekilas itu selalu menjadi obsesiku. Setiap melihat Tante Ratih, aku ingat kangkangan paha dan meqi tebal dalam pagutan ketat celana dalamnya.


Oh ya mengenai Tante Ratih yang tak punya anak. Saya mendengar ini terkadang jadi keluh-kesahnya pada ibuku. Aku tak tahu benar mengapa dia dan suaminya tak punya anak, dan entah apa yang dikatakan ibuku mengenai hal itu untuk menghibur dia.

Apalagi? Oh ya, ini yang paling penting yang menjadi asal-muasal cerita. Kalau bukan karena ini barangkali takkan ada cerita hehehhehe …. Tante Ratih ini, dia takut sekali sama setan, tapi anehnya suka nonton film setan di televisi hehehe …. Terkadang dia nonton di rumah kami kalau suaminya lagi ke kota lain untuk urusan bisnesnya. Pulangnya dia takut, lalu ibuku menyuruh aku mengantarnya sampai ke pintu rumahnya.


Dan inilah permulaan cerita.

Pada suatu hari tetangga sebelah kanan rumah Tante Ratih dan suaminya (kami di sebelah kiri) meninggal. Perempuan tua ini pernah bertengkar dengan Tante Ratih karena urusan sepele. Kalau tidak salah karena soal ayam masuk rumah. Sampai si perempuan meninggal karena penyakit bengek, mereka tidak berteguran.


Tetangga itu sudah tiga hari dikubur tak jauh di belakang rumahnya, sewaktu suami Tante Ratih, Om Hendra berangkat ke Singapur untuk urusan bisnes pasokannya. Sepanjang hari setelah suaminya berangkat Tante Ratih uring-uringan sama ibuku di rumahku. Dia takut sekali karena sewaktu masih hidup tetangga itu mengatakan kepada banyak orang bahwa sampai di kuburpun dia tidak akan pernah berbaikan dengan Tante Ratih.


Lanjutannya ketika aku pulang dari latihan sepakbola, ibu memanggilku. Katanya Tante Ratih takut tidur sendirian di rumahnya karena suaminya lagi pergi. Dan pembantunya sudah dua minggu dia berhentikan karena kedapatan mencuri. Sebab itu dia menyuruhku tidur di ruang tamu di sofa Tante Ratih. Mula-mula aku keberatan dan bertanya mengapa bukan salah seorang dari adik-adikku. Kukatakan aku mesti sekolah besok pagi. Yang sebenarnya seperti sudah saya katakan sebelumnya, saya selalu gugup dan tidak tenteram kalau berdekatan dengan Tante Ratih (tapi tentu saja ini tak kukatakan pada ibuku). Kata ibuku adik-adikku yang masih kecil tidak akan membantu membuat Tante Ratih tenteram, lagi pula adik-adikku itupun takut jangan-jangan didatangi arwah tetangga yang sudah mati itu hehehehe.


Lalu malamnya aku pergi ke rumah Tante Ratih lewat pintu belakang. Tante Ratih tampaknya gembira aku datang. Dia mengenakan daster tipis yang membalut ketat badannya yang sintal padat.


“Mari makan malam Dit”, ajaknya membuka tudung makanan yang sudah terhidang di meja.

“Saya sudah makan, Tante,” kataku, tapi Tante Ratih memaksa sehingga akupun makan juga.

“Didit, kamu kok pendiam sekali? Berlainan betul dengan adik-adik dan ibumu”, kata Tante Ratih selagi dia menyendok nasi ke piring.


Aku sulit mencari jawaban karena sebenarnya aku tidak pendiam. Aku tak banyak bicara hanya kalau dekat Tante Ratih saja, atau Lala atau perempuan cantik lainnya. Karena gugup.


“Tapi Tante suka orang pendiam”, sambungnya.


Kami makan tanpa banyak bicara, habis itu kami nonton televisi acara panggung musik pop. Kulihat Tante Ratih berlaku hati-hati agar jangan sampai secara tak sadar menaikkan kakinya ke sofa atau ke lengan sofa. Selesai acara musik kami lanjutkan mengikuti warta berita lalu filem yang sama sekali tidak menarik.


Karena itu Tante Ratih mematikan televisi dan mengajak aku berbincang menanyakan sekolahku, kegiatanku sehari-hari dan apakah aku sudah punya pacar atau belum. Aku menjawab singkat-singkat saja seperti orang blo’on. Kelihatannya dia memang ingin mengajak aku terus bercakap-cakap karena takut pergi tidur sendirian ke kamarnya. Namun karena melihat aku menguap, Tante Ratih pergi ke kamar dan kembali membawa bantal, selimut dan sarung. Di rumah aku biasanya memang tidur hanya memakai sarung karena penisku sering tidak mau kompromi. Tertahan celana dalam saja bisa menyebabkan aku merasa tidak enak bahkan kesakitan.


Tante Ratih sudah masuk ke kamarnya dan aku baru menanggalkan baju sehingga hanya tinggal singlet dan meloloskan celana blujins dan celana dalamku menggantinya dengan sarung ketika hujan disertai angin kencang terdengar di luar. Aku membaringkan diri di sofa dan menutupi diri dengan selimut wol tebal itu ketika suara angin dan hujan ditingkah gemuruh guntur dan petir sabung menyabung. Angin juga semakin kencang dan hujan makin deras sehingga rumah itu seperti bergoyang. Dan tiba-tiba listrik mati sehingga semua gelap gulita.


Kudengar suara Tante memanggil di pintu kamarnya.


“Ya, Tante?”

“Tolong temani Tante mencari senter”.

“Dimana Tante?”, aku mendekat meraba-raba dalam gelap ke arah dia.

“Barangkali di laci di dapur. Tante mau ke sana.” Tante baru saja menghabiskan kalimatnya saat tanganku menyentuh tubuhnya yang empuk. Ternyata persis dadanya. Cepat kutarik tanganku.

“Saya kira kita tidak memerlukan senter Tante. Bukankah kita sudah mau tidur? Saya sudah mengantuk sekali.”

“Tante takut tidur dalam gelap Dit”.

“Gimana kalau saya temani Tante supaya tidak takut?”, aku sendiri terkejut dengan kata-kata yang keluar dari mulutku, mungkin karena sudah mengantuk sangat. Tante Ratih diam beberapa saat.

“Di kamar tidur Tante?”, tanyanya.

“Ya saya tidur di bawah”, kataku. “di karpet di lantai.” Seluruh lantai rumahnya memang ditutupi karpet tebal.

“Di tempat tidur Tante saja sekalian asal ….. “

Aku terkesiap. “A … asal apa Tante?”

“Asal kamu jangan bilang sama teman-temanmu, Tante bisa dapat malu besar. Dan juga jangan sekali-kali bilang sama ibumu”.

“Ah buat apa itu saya bilang-bilang? Tidak akan, Tante”. Dalam hati aku melonjak-lonjak kegirangan. Tak kusangka aku bakalan dapat durian runtuh, berkesempatan tidur di samping Tante Ratih yang cantik banget. Siapa tahu aku nanti bisa nyenggol-nyenggol dia sedikit-sedikit.


Meraba-raba seperti orang buta menjaga jangan sampai terantuk ke dinding aku kembali ke sofa mengambil selimut dan bantal, lalu kembali meraba-raba ke arah Tante Ratih di pintu kamarnya. Cahaya kilat dari kisi-kisi di puncak jendela membantu aku menemukan keberadaannya dan dia membimbing aku masuk. Badan kami berantuk saat dia menuntun aku ke tempat tidurnya dalam gelap. Ingin sekali aku merangkul tubuh empuknya tetapi aku takut dia marah. Akhirnya kami berdua berbaring berjajar di tempat tidur. Selama proses itu kami sama menjaga agar tidak terlalu banyak bersentuhan badan. Perasaanku tak karuan. Baru kali inilah aku pernah tidur dengan perempuan bahkan dengan ibuku sendiripun tak pernah. Perempuan cantik dan seksi lagi.


“Kamu itu kurus tapi badanmu kok keras Dit?” bisiknya di sampingku dalam gelap. Aku tak menjawab.

“Seandainya kau tahu betapa ******-ku lebih keras lagi sekarang ini,” kataku dalam hati. Aku berbaring miring membelakangi dia. Lama kami berdiam diri. Kukira dia sudah tidur, yang jelas aku tak bisa tidur. Bahkan mataku yang tadinya berat mengantuk, sekarang terbuka lebar.

“Dit,” kudengar dia memecah keheningan. “Kamu pernah bersetubuh?”


Nafasku sesak dan mereguk ludah.


“Belum Tante, bahkan melihat celana dalam perempuanpun baru sekali.” Wah berani sekali aku.

“Celana dalam Tante?”

“Hmmh”.

“Kamu mau nanggelin Dit?” dalam gelap kudengar dia menahan tawa.

Aku hampir-hampir tak percaya dia mengatakan itu.

“Nanggelin celana dalam Tante?”

“Iya. Tapi jangan dibilangin siapapun.”

Aku diam agak lama.

“Takutnya nanti bilah saya tidak mau kendor Tante”.

“Nanti Tante kendorin”.

“Sama apa?”

“Ya tanggelin dulu. Nanti bilahmu itu tahu sendiri.” Suaranya penuh tantangan.


Dan akupun berbalik, nafsuku menggelegak. Aku tahu inilah kesempatan emas untuk melampiaskan hasrat berahiku yang terpendam pada perempuan cantik-seksi selama bertahun-tahun usia remajaku. Rasanya seperti aku dapat peluang emas di depan gawang lawan dalam satu pertandingan final kejuaraan besar melawan kesebebelasan super kuat, dimana pertandingan bertahan 0-0 sampai menit ke-85. Umpan manis disodorkan penyerang tengah ke arah kiri. Bola menggelinding mendekati kotak penalti. Semua mengejar, kiper terjatuh dan aku tiba lebih dulu.


Dengan kekuatan penuh kulepaskan tembakan geledek. GOL! Begitulah rasanya ketika aku tergesa melepas sarungku dan menyerbu menanggalkan celana dalam Tante Ratih. Lalu dalam gelap kuraih kaitan BH dipunggungnya, dia membantuku. Kukucup mulutnya. Kuremas buah dadanya dan tak sabaran lagi kedua kakiku masuk ke celah kedua pahanya. Kukuakkan paha itu, kuselipkan paha kiriku di bawah paha kanannya dan dengan satu tikaman kepala kontolku menerjang tepat akurat ke celah labianya yang basah. Saya tancapkan terus. MASUK!


Aku menyetubuhi Tante Ratih begitu tergesa-gesa. Sambil menusuk liang vaginanya kedua buah dadanya terus kuremas dan kuhisap dan bibirnya kupilin dan kulumat dengan mulutku. Mataku terbeliak saat penisku kumaju-mundurkan, kutarik sampai tinggal hanya kepala lalu kubenam lagi dalam mereguk nikmat sorgawi vaginanya. Kenikmatan yang baru pertama kalinya aku rasakan. Ohhhhh … Ohhhhh ….


Tetapi malangnya aku, barangkali baru delapan kali aku menggenjot, itupun batang kemaluanku baru masuk dua pertiga sewaktu dia muntah-muntah dengan hebat. Spermaku muncrat tumpah ruah dalam lobang kewanitaannya. Dan akupun kolaps. Badanku penuh keringat dan tenagaku rasanya terkuras saat kusadari bahwa aku sudah knocked out. Aku sadar aku sudah keburu habis sementara merasa Tante Ratih masih belum apa-apa, apalagi puas.


Dan tiba-tiba listrik menyala. Tanpa kami sadari rupanya hujan badai sudah reda. Dalam terang kulihat Tante Ratih tersenyum disampingku. Aku malu. Rasanya seperti dia menertawakan aku. Laki-laki loyo. Main beberapa menit saja sudah loyo.

“Lain kali jangan terlampau tergesa-gesa dong sayang”, katanya masih tersenyum. Lalu dia turun dari ranjang. Hanya dengan kimono yang tadinya tidak sempat kulepas dia pergi ke kamar mandi, tentunya hendak cebok membersihkan spermaku yang berlepotan di celah selangkangannya.


Keluar dari kamar mandi kulihat dia ke dapur dan akupun gantian masuk ke kamar mandi membersihkan penis dan pangkal penisku berserta rambutnya yang juga berlepotan sperma. Habis itu aku kembali ke ranjang. Apakah akan ada babak berikutnya? Tanyaku dalam hati. Atau aku disuruh kembali ke sofa karena lampu sudah nyala?

Tante Ratih masuk ke kamar membawa cangkir dan sendok teh yang diberikan padaku.


”Apa ini Tante?”

“Telor mentah dan madu lebah pengganti yang sudah kamu keluarkan banyak tadi”, katanya tersenyum nakal dan kembali ke dapur.


Akupun tersenyum gembira. Rupanya akan ada babak berikutnya. Dua butir telur mentah itu beserta madu lebah campurannya kulahap dan lenyap kedalam perutku dalam waktu singkat. Dan sebentar kemudian Tante kembali membawa gelas berisi air putih.


Dan kami duduk bersisian di pinggir ranjang.

“Enak sekali Tante”, bisikku dekat telinganya.

“Telor mentah dan madu lebah?”, tanyanya.

“Bukan. Meqi Tante enak sekali.”

“Mau lagi?” tanyanya menggoda.

“Iya Tante, mau sekali”, kataku tak sabar dengan melingkarkan tangan di bahunya.

“Tapi yang slow ya Dit? Jangan buru-buru seperti tadi.”

“Iya Tante, janji”.


Dan kamipun melakukannya lagi. Walau di kota kabupaten aku bukannya tidak pernah nonton filem bokep. Ada temanku yang punya kepingan VCD-nya. Dan aku tahu bagaimana foreplay dilakukan. Sekarang aku coba mempraktekkannya sendiri. Mula-mula kucumbu dada Tante Ratih, lalu lehernya. Lalu turun ke pusar lalu kucium dan kujilat ketiaknya, lalu kukulum dan kugigit-gigit pentilnya, lalu jilatanku turun kembali ke bawah seraya tanganku meremas-remas kedua payudaranya. Lalu kujilat belahan vaginanya. Sampai disini Tante Ratih mulai merintih. Kumainkan itilnya dengan ujung lidahku. Tante Ratih mengangkat-angkat panggulnya menahan nikmat. Dan akupun juga sudah tidak tahan lagi. Penisku kembali tegang penuh dan keras seakan berteriak memaki aku dengan marah “Cepatlah *******, jangan berleha-leha lagi”, teriaknya tak sabar. Penis yang hanya memikirkan mau enaknya sendiri saja.


Aku merayap di atas tubuh Tante Ratih. Tangannya membantu menempatkan bonggol kepala penisku tepat di mulut lobang kemaluannya. Dan tanpa menunggu lagi aku menusukkan penisku dan membenamkannya sampah dua pertiga. Lalu kupompa dengan ganas.


“Diiiiiiiit”, rengeknya mereguk nikmat sambil merangkul leher dan punggungku dengan mesra.


Rangkulan Tante Ratih membuat aku semakin bersemangat dan terangsang. Pompaanku sekarang lebih kuat dan rengekan Tante Ratih juga semakin manja. Dan kupurukkan seluruh batangku sampai ujung kepada penisku menyentuh sesuatu di dasar rahim Tante. Sentuhan ini menyebabkan Tante menggeliat-geliat memutar panggulnya dengan ganas, meremas dan menghisap kontolku. Reaksi Tante ini menyebabkan aku kehilangan kendali. Aku bobol lagi. Spermaku muncrat tanpa dapat ditahan-tahan lagi. Dan kudengar Tante Ratih merintih kecewa. Kali ini aku keburu knocked out selagi dia hampir saja mencapai orgasme.


“Maafkan Tante”, bisikku di telinganya.

“Tak apa-apa Dit,” katanya mencoba menenangkan aku. Dihapusnya peluh yang meleleh di pelipisku.

“Dit, jangan bilang-bilang siapapun ya sayang? Tante takut sekali kalau ibumu tahu. Dia bakalan marah sekali anaknya Tante makan”, katanya tersenyum masih tersengal-sengal menahan berahi yang belum tuntas penuh. Kontolku berdenyut lagi mendengar ucapan Tante itu, apa memang aku yang dia makan bukannya aku yang memakan dia? Dan aku teringat pada kekalahanku barusan. Ke-lelakian-ku tersinggung. Diam-diam aku bertekad untuk menaklukkannya pada kesempatan berikutnya sehingga tahu rasa, bukan dia yang memakan aku tetapi akulah yang memakan dia.


Aku terbangun pada kokokan ayam pertama. Memang kebiasaanku bangun pagi-pagi sekali. Karena aku perlu belajar. Otakku lebih terbuka mencerna rumus-rumus ilmu pasti dan fisika kalau pagi. Kupandang Tante Ratih yang tergolek miring disampingku. Dia masih tidak ber-celana dalam dan tidak ber-BH. Sebelah kakinya menjulur dari belahan kimono di selangkangannya membentuk segitiga sehingga aku dapat melihat bagian dalam pahanya yang putih padat sampai ke pangkalnya. Ujung jembutnya juga kulihat mengintip dari pangkal pahanya itu dan aku juga bisa melihat sebelah buah dadanya yang tidak tertutup kimono. Aku sudah hendak menerkam mau menikmatinya sekali lagi sewaktu aku merasa desakan mau buang air kecil. Karena itu pelan-pelan aku turun dari ranjang terus ke kamar mandi.


Aku sedang membasuh muka dan kumur-kumur sewaktu Tante Ratih mengetok pintu kamar mandi. Agak kecewa kubukakan pintu dan Tante Ratih memberikan handuk bersih. Dia sodorkan juga gundar gigi baru dan odol.


“Ini Dit, mandi saja disini,” katanya. Barangkali dia kira aku akan pulang ke rumahku untuk mandi? Goblok bener.


Akupun cepat-cepat mandi. Keluar dari kamarmandi dengan sarung dan singlet dan handuk yang membalut tengkuk, kedua pundak dan lengan kulihat Tante Ratih sudah di dapur menyiapkan sarapan.


“Ayo sarapan Dit. Tante juga mau mandi dulu,” katanya meninggalkan aku.


Kulihat di meja makan terhidang roti mentega dengan botol madu lebah Australia disampingnya dan semangkok besar cairan kental berbusa. Aku tahu apa itu. Teh telor. Segera saja kuhirup dan rasanya sungguh enak sekali di pagi yang dingin. Saya yakin paling kurang ada dua butir telor mentah yang dikocokkan Tante Ratih dengan pengocok telur disana, lalu dibubuhi susu kental manis cap nona dan bubuk coklat. Lalu cairan teh pekat yang sudah diseduh untuk kemudian dituang dengan air panas sembari terus dikacau dengan sendok. Lezat sekali. Dan dua roti mentega berlapis juga segera lenyap ke perutku. Kumakan habis selagi berdiri. Madu lebahnya kusendok lebih banyak.


Tante tidak lama mandinya dan aku sudah menunggu tak sabar.

Dengan hanya berbalut handuk Tante keluar dari kamar mandi.


“Tante, ini teh telornya masih ada”, kataku.

“Kok tidak kamu habiskan Dit?” tanyanya.

“Tante kan juga memerlukannya” , kataku tersenyum lebar. Dia menerima gelas besar itu sambil tersenyum mengerling lalu menghirupnya.

“Saya kan dapat lagi ya Tante”, tanyaku menggoda. Dia menghirup lagi dari gelas besar itu. “Tapi jangan buru-buru lagi ya?” katanya tersenyum dikulum. Dia menghirup lagi sebelum gelas besar itu dia kembalikan padaku. Dan aku mereguk sisanya sampai habis.

Penuh hasrat aku mengangkat dan memondong Tante Ratih ke kamar tidur.

“Duh, kamu kuat sekali Dit”, pujinya melekapkan wajah di dadaku.


Kubaringkan dia di ranjang, handuk yang membalut tubuh telanjang-nya segera kulepas. Duhhh cantik sekali. Segalanya indah. Wajah, toket, perut, panggul, meqi, paha dan kakinya. Semuanya putih mulus mirip artis filem Jepang.


Semula aku ragu bagaimana memulainya. Apa yang mesti kuserang dulu, karena semuanya menggiurkan. Tapi dia mengambil inisiatif. Dilingkarkannya tangannya ke leherku dan dia dekatkan mulutnya ke mulutku, dan akupun melumat bibir seksinya itu. Dia julurkan lidahnya yang aku hisap-hisap dan perasan airludahnya yang lezat kureguk. Lalu kuciumi seluruh wajah dan lehernya. Lalu kuulangi lagi apa yang aku lakukan padanya tadi malam. Meremas-remas payu daranya, menciumi leher, belakang telinga dan ketiaknya, menghisap dan menggigit sayang pentil susunya. Sementara itu tangan Tante juga liar merangkul punggung, mengusap tengkuk, dan meremas-remas rambutku.


Lalu sesudah puas menjilat buah dada dan mengulum pentilnya, ciumanku turun ke pusar dan terus ke bawah. Seperti kemarin aku kembali menciumi jembut di vaginanya yang tebal seperti martabak Bangka, menjilat klitoris, labia dan tak lupa bagian dalam kedua pahanya yang putih. Lalu aku mengambil posisi seperti tadi malam untuk menungganginya.


Tante menyambut penisku di liang vaginanya dengan gairah. Karena Tante Ratih sudah naik birahi penuh, setiap tusukan penisku menggesek dinding liangnya tidak hanya dinikmati olehku tetapi dinikmati penuh oleh dia juga.


Setiap kali sambil menahan nikmat dia berbisik di telingaku “Jangan buru-buru ya sayang, …….. jangan buru-buru ya sayang.” Dan aku memang berusaha mengendalikan diri menghemat tenaga. Kuingat kata-kata pelatih sepakbola-ku. Kamu itu main dua kali 45 menit, bukannya cuman setengah jam. Karena itu perlu juga latihan lari marathon. Dari pengalaman tadi malam kujaga agar penisku yang memang berukuran lebih panjang dari orang kebanyakan itu jangan sampai terbenam seluruhnya karena akan memancing reaksi liar tak terkendali dari Tante Ratih. Aku bisa bobol lagi. Aku menjaga hanya masuk dua pertiga atau tiga perempat.


Dan kurasakan Tante Ratih juga berusaha mengendalikan diri. Dia hanya menggerakkan panggulnya sekadarnya menyambut kocokan batangku. Kerjasama Tante membantu aku. Untuk lima menit pertama aku menguasai bola dan lapangan sepenuhnya.


Kujelajahi sampai dua pertiga lapangan sambil mengarak dan mendrible bola, sementara Tante merapatkan pertahanan menunggu serangan sembari melayani dan menghalau tusukan-tusukanku yang mengarah ke jaring gawangnya.


Selama lima menit berikutnya aku semakin meningkatkan tekanan. Terkadang bola kubuang ke belakang , lalu kugiring dengan mengilik ke kiri dan ke kanan, terkadang dengan gerakan berputar. Kulihat Tante mulai kewalahan dengan taktik-ku. Lima menit berikutnya Tante mulai melancarkan serangan balasan. Dia tidak lagi hanya bertahan. Back kiri dan bek kanan bekerjasama dengan gelandang kiri dan gelandang kanan, begitupun kiri luar dan kanan luar bekerjasama membuat gerakan menjepit barisan penyerangku yang membuat mereka kewalahan. Sementara merangkul dan menjepitkan paha dan kakinya ke panggulku Tante Ratih berbisik mesra “jangan buru-buru ya sayang …. jangan tergesa-gesa ya Dit?”. Akupun segera mengendorkan serangan, menahan diri. Dan lima menit lagi berlalu. Lalu aku kembali mengambil inisiatif menjajaki mencari titik lemah pertahanan Tante Ratih. Aku gembira karena aku menguasai permainan dan lima menit lagi berlalu.


Tante Ratih semakin tersengal-sengal, rangkulannya di punggung dan kepalaku semakin erat. Dan aku tidak lagi melakukan penjajakan. Aku sudah tahu titik kelemahan pertahanannya. Sebab itu aku masuk ke tahap serangan yang lebih hebat.


Penggerebekan di depan gawang. Penisku sudah lebih sering masuk tiga perempat menyentuh dasar liang kenikmatan Tante Ratih. Setiap tersentuh Tante Ratih menggelinjang. Dia pererat rangkulannya dan dengan nafas tersengal dia kejar mulutku dengan mulutnya dan mulut dan lidah kamipun kembali berlumatan dan kerkucupan.


“Dit”, bisiknya. “Punyamu panjang sekali.”

“Memek Tante tebal dan enak sekali”, kataku balas memuji dia. Dan pertempuran sengit dan panas itu berlanjut lima lalu sepuluh menit lagi. Lalu geliat Tante Ratih semakin menggila dan ini menyebabkan aku semakin gila pula memompa. Aku tidak lagi menahan diri. Aku melepaskan kendali syahwat berahiku selepas-lepasnya. Kutusuk dan kuhunjamkan kepala ******-ku sampai ke pangkalnya berkali-kali dan berulang-ulang ke dasar rahimnya sampai akhirnya Tante Ratih tidak sadar menjerit “oooooohhhhhh…” .


Aku terkejut, cepat kututup mulutnya dengan tanganku, takut kedengaran orang, apalagi kalau kedengaran oleh ibuku di sebelah. Sekalipun demikian pompaanku yang dahsyat tidak berhenti. Dan saat itulah kurasakan tubuh Tante Ratih berkelojotan sementara mulutnya mengeluarkan suara lolongan yang tertahan oleh tanganku. Dia orgasme hebat sekali.


“Sudah Dit, Tante sudah tidak kuat lagi”, katanya dengan nafas panjang-singkatan setelah mulutnya kulepas dari bekapanku. Kulihat ada keringat di hidung, di kening dan pelipisnya. Wajah itu juga kelihatan letih sekali. Aku memperlambat lalu menghentikan kocokanku. Tapi senjataku masih tertanam mantap di memek tebalnya.


“Enak Tante?”, bisikku.

“Iya enak sekali Dit. Kamu jantan. Sudah ya? Tante capek sekali”, katanya membujuk supaya aku melepaskannya. Tapi mana aku mau? Aku belum keluar, sementara batang kelelakianku yang masih keras perkasa yang masih tertancap dalam di liang kenikmatannya sudah tidak sabaran hendak melanjutkan pertempuran.

“Sebentar lagi ya Tante,” kataku meminta , dan dia mengangguk mengerti. Lalu aku melanjutkan melampiaskan kocokanku yang tadi tertunda. Kusenggamai dia lagi sejadi-jadinya dan berahinya naik kembali, kedua tangannya kembali merangkul dan memiting aku, mulutnya kembali menerkam mulutku.


Lalu sepuluh menit kemudian aku tak dapat lagi mencegah air mani-ku menyemprot berkali-kali dengan hebatnya, sementara dia kembali berteriak tertahan dalam lumatan mulut dan lidahku. Liang vaginanya berdenyut-denyut menghisap dan memerah sperma-ku dengan hebatnya seperti tadi. Kakinya melingkar memiting panggul dan pahaku.


Persetubuhan nikmat diantara kami ternyata berulang dan berulang dan berulang dan berulang lagi saban ada kesempatan atau tepatnya peluang yang dimanfaatkan.


Suami Tante Ratih Om Hendra punya hobbi main catur dengan Bapakku. Kalau sudah main catur bisa berjam-jam. Kesempatan itulah yang kami gunakan. Paling mudah kalau mereka main catur di rumahku. Aku datangi terus Tante Ratih yang biasanya berhelah menolak tapi akhirnya mau juga. Aku juga nekad mencoba kalau mereka main catur di rumah Tante Ratih. Dan biasanya dapat juga walau Tante Ratih lebih keras menolaknya mula-mula. Hehe kalau aku tak yakin bakalan dapat juga akhirnya manalah aku akan begitu degil mendesak dan membujuk terus.


Cerita sex - Tiga bulan kemudian sesudah peristiwa pertama di kala hujan dan badai itu aku ketakutan sendiri. Tante Ratih yang lama tak kunjung hamil, ternyata hamil. Aku khawatir kalau-kalau bayinya nanti hitam. Kalau hitam tentu bisa gempar. Karena Tante Ratih itu putih. Om Hendra kuning. Lalu kok bayi mereka bisa hitam? Yang hitam itu kan si Didit. Hehehehe … tapi itu cerita lain lagilah.


Search This Blog

Powered by Blogger.

Copyright © / CERITA DEWASA

Template by : CeritaPA / powered by :blogger